MENGGEMBUNG
Entah kenapa anak-anak sering kali abai dengan panggilan alam jika sudah keasyikan bermain.
"Aliif, ayo pipis dulu."
Dia yang punya badan, tapi saya yang ribut kebelet.
Itu pun belum tentu mau dan percaya bahwa dia butuh BAK.
Dua hari yang lalu, saat mandi, saya perhatikan perutnya agak besar. Begitulah seorang Ibu. Sampai perut anak pun diperhatikan, tapi pura-pura tidak kenal dengan perut sendiri. Eh.
Seorang ibu nggak cuma mengingat tanggal lahir anggota keluarga, tanggal anniversary, daftar belanja, dan jadwal sekolah saja. Seorang ibu bahkan ingat kapan terakhir kali anaknya BAB. Sementara pelakunya sendiri no problemo. Mungkin saking ikhlasnya.
"Alif pasti kebelet pup ini!" Langsung nodong, dong. Nggak pake tanya.
"Enggak," elak si anak, padahal sudah di ujung tanduk.
"Nggak enak, kan, perutnya. Pasti mules, kan. Sesak, kan. Coba dikeluarkan, jadi lega." Kali ini jurus sugesti.
"Enggak, kok," kata yang punya hajat.
OK, fine. Ibu masih punya jurus pamungkas, meski agak brutal.
"Nak, kalau kebanyakan isinya, nggak dikeluar-keluarkan, nanti perutnya bisa menggembung buessaar." Ngomongnya agak lirih tapi ngotot.
Giliran Alif matanya melotot.
"Ayo, kebelet, kan?" hasut sang ibu.
"Iya, Ibu. Alif kebelet," jawabnya sambil geol-geol.
Saya pun sukses mengantarkan anak semata wayang sampai ke gerbang kesuksesan metabolisme.
Lima menit kemudian ....
"Ibuuuuu! Ini gimana kok ndak keluar-keluar ini, Ibu?"
"Ibu, kok perut Alif tambah menggembung ini gimana, Ibuuuuu?"
Kaaannn ....
Komentar
Posting Komentar