MAIN PASIR
Satu bulan terakhir, Alif sedang senang-senangnya mengaduk-aduk pasir tetangga. Memang, pasir di depan rumah Pak RT itu masih menggunung cukup banyak, sisa membangun rumah. Jadilah area itu wahana permainan paling laris di sekitar.
Banyak anak-anak kecil bermain di sana. Mereka membawa peralatan percidukan dan 'kendaraan berat'. Pak RT dan keluarga justru senang halaman rumahnya ramai. Istri beliau sendiri mempersilakan anak-anak main pasir di bawah rindangnya pohon mangga miliknya.
Sayangnya, segiat-giatnya anak orang bermain pasir, anak saya jauh lebih giat lagi. Pulang sekolah sampai Zuhur, main. Habis Asar, main. Tidak peduli dirinya sudah bersih dan wangi, ujung-ujungnya main pasir.
Hari libur, lebih kerasan lagi. Pagi atau sore, anak orang sudah mandi, mukanya dibedakin seperti donat, sudah keramas, tidak satu pun mereka mendekat gunungan pasir itu. Takut diteriaki ibunya. Anak saya, berdandan parlente, pakai kemeja hitam yang bawahnya dimasukkan ke celana, rambut klimis lembab habis keramas, harum, memakai jam tangan yang ada lampu, laser, dan musiknya, itu pun kalau tidak dicegah, maka akan ada ikat pinggang dengan selipan pistol mainan. Dandan habis-habisan begitu demi bergelimang pasirnya Pak RT. Tidak lupa menjemput anak-anak donat tadi.
Mbah Utinya di desa sebelah, kangen dengan cucunya yang sudah jarang berkunjung. Belakangan, Mbah Uti tahu bahwa ternyata Beliau kalah ngangenin dengan pasir tetangga. Akhirnya, Mbah Uti order pasir juga. Alif meluncur ke rumah Mbah Uti dengan senang hati. Demi temu kangen dengan Mbah Uti? Oh, demi baginda pasir yang mulia!

Komentar
Posting Komentar