Kenangan

 Dulu, saya senang sekali merekam dan membagikan momen dalam media gambar dan video. Jumlahnya sudah mencapai dua ribuan lebih. Entahlah itu ngapain aja. Perasaan saya kalem-kalem aja orangnya.

Terlepas itu asik sekali dan pamerable, saya dulu memang senarsis itu. Akun fb lama saya tupkun demi menghilangkan jejak alay dulu. Ehm.

Bedanya, saya sekarang merekam kenangan menggunakan seluruh panca indra dan perasaan, lalu menuangkannya dalam dokumentasi tulisan. Jadi, saya tidak lagi terlalu sibuk dengan kamera ketika momen berharga itu datang.

Lalu, sekarang, apakah sudah nggak suka pamer?

Itu, sih, jangan ditanya.

Jangan nanya pokoknya.

Karena sekarang pamernya melanglang buana sampai ke grup-grup literasi. Bahkan platform juga. 

Hanya saja, sekarang lewat media tulisan, yang saya bisa menyensor bagian mana pun yang dimau dan bisa menampilkan isi pikiran saya. Nggak kuatir nggak glowing.

Aihh ... entah apa yang akan dikatakan Alif kelak kalau dia sudah besar dan membaca tulisan-tulisan ibunya. 

Tapi jika pun dia bertanya, saya akan menjawab ....

"Nak, apa yang Ibu tulis hanyalah sedikit yang bisa Ibu abadikan untukmu. Tentang sayangnya Ayah dan Ibu kepadamu. Tidak akan hilang dan rusak sebab itu adalah sebuah buku, baik dicetak atau tidak. Yang bisa kaubaca jika kelak rindu dan Ibu tidak lagi membersamaimu."

Komentar

Postingan Populer