JANJI



"Mana jasmu?" tanya teman sekelas diniyah saya, dulu.


Di hari-hari tertentu, memang diwajibkan mengenakan jas almamater pesantren. Sayangnya, hari itu jas saya masih di jemuran, belum kering. 


"Basah," jawab saya, singkat.


Teman saya masih saja mengomel panjang, meski sudah diberi tahu keadaan sebenarnya. Menjemur pakaian di pesantren tidaklah mudah. Dempet-dempetan, rebutan tempat, risiko hilang, belum lagi kalau musim hujan. Saya tidak ahli soal rebutan, dalam hal apa pun. Jadi, soal antri, jemuran, belanja, makan, saya tim terima apa adanya. 


Karena teman saya terus saja mengomel, saya pun berjanji akan membawa jas setelah jam istirahat nanti. Baru dia diam.


Tiba waktu istirahat, saya memenuhi janji. Teman saya bukannya senang, malah terkejut melihat saya. Untungnya, dia tidak mengomel lagi. Baguslah.


Sesuai janji, saya membawa jas basah itu beserta hanger-hangernya. Saya menentengnya ke kantin, koperasi, kelas, kantor, ke mana pun saya pergi sepanjang hari.


Sejak itu, dia tidak lagi memaksa-maksa saya.


Lamongan, 21 Oktober 2022.

Komentar

Postingan Populer