Cinta Datang Terlambat


Rumah ini masih ramai seperti dulu. Anak-anak dan cucu-cucu berkumpul. Namun, separuh hati ini terasa kosong. Ah, tentu saja. Tanpa Kaisha di sisi, hidup tak lagi seperti saat dia bersamaku.


Kaisha-ku telah berpulang. Dia pergi tanpa berpamitan. Tiba-tiba saja sakit itu merenggutnya dariku, dari kami semua. Sejak itu, hidup tak pernah lagi sama.


Namun, hatiku rasanya masih mencari. Sesuatu terasa hilang. Bukan, aku sudah cukup lama merasakannya. Biasanya, Kaisha menghanyutkanku dari rasa entah apa, yang membuatku bertanya-tanya dan merasa janggal. Pesona, kasih sayang, dan keceriaan istriku menimbun kejanggalan hati itu. Aku larut dalam cerita keluarga kecilku yang begitu mengagumkan.


Lama pikiranku menerawang, mencari secuil yang mungkin terlupakan. Di dalam sini, hati ini tiba-tiba saja merasa cemas. Seperti genderang yang ditabuh kencang, diakhiri rasa tak biasa yang seketika menyeruak, menghantam jiwa. Aku harus berbuat sesuatu.


***


Jika saja aku tak melewati SMA-ku dulu, mungkin tak 'kan pernah aku menemukannya. Jejak itu, sisa-sisa bayangan seorang gadis yang senantiasa menungguku di gerbang. Ya Tuhan! Bagaimanakah dia sekarang?


Segera aku melesat ke alamat yang kuhapal di luar kepala. Semoga dia masih di sana. Sudah terbayangkan olehku, dia bermain bersama cucu dan anak-anaknya, didampingi lelaki yang setia membersamai. Aku tak sabar ingin segera melihatnya.


***


Kecewa. Tak kutemukan apapun di sana. Rumah itu terlihat telah lama ditinggalkan. Aku bertanya pada seorang tetangga di sana, kemanakah gerangan pemilik rumah ini. Wanita tua itu menatapku lama. Menelisik setiap senti wajahku, lalu tersenyum lebih ramah dari sebelumnya. 


Dia memintaku menunggu sejenak, dan berlalu ke dalam rumahnya. Tak lama, kembali dengan mengangsurkan sebuah kunci. Sedikit heran, tapi kuterima saja. Aku meninggalkannya setelah mengucapkan terimakasih.


Entah berapa tahun sudah tempat ini ditinggalkan. Tapi lampu-lampu masih bisa menyala. Aku duduk di sofa yang sedikit berdebu. Sepertinya ada yang rutin membersihkan secara berkala.


Pandanganku tertuju pada rangkaian pigura di dinding. Foto-foto itu menampilkan Isyana sejak ia masih kecil hingga menua. Dia terlihat semakin dewasa. Gambaran dirinya yang lugu dan kaku telah sirna. 


Karena sudah terlanjur di sini, kupikir sekalian melihat-lihat ke ruangan lain. Aku hanya ingin mencari tahu perjalanan hidupnya. Juga keluarga kecilnya. Aku ... rindu padanya.


***


Ruang tengah, tidak banyak petunjuk bisa kudapatkan. Kuakui aku sedikit lancang, tapi aku telah begitu penasaran, kubuka pintu kamar yang kukira mungkin kamarnya.


Sebuah ruangan dengan nuansa merah muda dengan jauh lebih banyak foto dipajang di dinding. Aku benar-benar tidak menyangka. Terduduk di tepi ranjang, kupastikan aku tidak salah lihat. Foto-foto itu, hampir semuanya adalah fotoku. Isyana, ada apa ini?


Aku mencermati semua foto itu satu persatu. Beberapa adalah fotoku semasa SMA dulu. Lalu berurutan, undangan pernikahanku, foto pernikahan, foto keluarga bersama putri pertamaku, dan seterusnya tentang diriku. Tampaknya gambar-gambar itu didapatkan dari akun sosial mediaku dan Kaisha. 


Lalu, barulah sisi berikutnya, kutemukan foto-foto Isyana. Gambar terakhir, ia sedang berada di sebuah panti asuhan di provinsi lain. Kucabut lembaran itu dari tempatnya, memasukkannya ke dalam saku. 


***


Dalam perjalanan menuju panti asuhan, hatiku makin lama makin ngilu. Di usian enam puluhan ini, baru kusadari benar-benar setiap potongan kisah itu. 


Bungkus-bungkus permen itu, baru kumengerti mengapa dua kali aku tak sengaja membaca tulisannya, sekilas saja, tulisannya tetap sama. Kupikir hanya kebetulan semata. 


Juga hadiah-hadiah itu. Sepupuku berkata pernah membaca surat cinta yang ditulis di balik kertas kado pembungkusnya. Tapi aku tidak percaya, tak pernah sekalipun aku membacanya. Sekali lagi, aku tak menyadarinya. 


Dan pesan itu, tak pernah terbersit bahwa perasaannya sedalam ini. Waktu itu, hatiku memang milik Kaisha.


Aku mencintai istriku, wanita idaman yang kunikahi. Tapi, saat rasa lelah dari rutinitas dan kegaduhan menyeruak, dalam ruang kosong itu, aku kehilangan dia. Sesuatu yang selama ini kuingkari hingga ia bersembunyi dalam ruang bawah sadar. Lalu kini kembali tanpa bisa segera kukenali lagi. 


Aku kelimpungan tanpa mengerti apa yang terjadi. Rindu. Aku rindu dia menyambutku setiap pagi di gerbang, menyuapiku dengan roti gulung seminggu sekali. Juga rindu pada seseorang yang selalu mengikutiku kemanapun aku pergi. Aku begitu terlena terbiasa dengannya, tanpa menyadari begitu kosongnya jika ruang itu tanpa dia. Rasa ini, Isyana, begitu terlambat sampai nyaris kehabisan waktu. 


***


Kulangkahkan kaki mendekat ke arahnya. Aku, lima belas meter di belakang, sangat yakin bahwa rambut putih yang diikat kepang itu adalah miliknya. Di bawah rindangnya pohon, dia sedang mendongeng di depan sekumpulan anak-anak panti. Suaranya sedikit berat. Isyana. Akankah dia mengenaliku?


Dia mengakhiri ceritanya. Anak-anak pun bertepuk tangan. Mereka berhamburan memeluk. Barulah setelah itu dia berbalik, lalu terpaku. Serta merta napas dan jantungku berhenti. Tubuhku pun membeku. Kami bertatapan dalam diam. Kemudian seulas senyumnya mencairkan darahku. Jantung kembali berdetak.


***


Aku mengajaknya duduk bersama di tepi pantai. Dia masih seperti dulu, banyak bertanya padaku. Aku tersenyum mengingat foto-foto di dinding kamarnya. Kami kembali bercengkrama seperti dulu, sepanjang waktu. 


"Maafkan aku, Isyana ...." Aku menatap, menggenggam erat kedua telapak tangannya. 


Dia hanya tersenyum, namun kedua matanya mengalirkan genangan.


Akhirnya tanyaku terjawab, mengapa tak kutemukan foto siapapun di rumah itu selain dia dan orangtuanya.


Rupanya, dia sengaja memelihara rasa itu, memupuknya subur tanpa peduli waktu. Menua dengan kenangan yang berakhir pahit. Dan aku tak tahu itu.


Teganya dia membiarkanku menghabisinya sekian lama dengan luka. Menyisakan dirinya yang terbatuk-batuk keras dan melemah di masa tua. Sedang aku, menari bersama orang lain di dinding kamarnya. Mencinta di atas sakitnya.


Maafkan aku, Isyana ....


Maafkan telah menelantarkanmu berpuluh tahun tanpa pernah sekalipun menoleh sejenak padamu.


"Isyana, menikahlah denganku."


***


Aku mendudukkannya di bangku panjang dengan sandaran. Mengajaknya bertaruh sekali lagi. Aku akan duduk lebih dari setengah jam, bahkan sepanjang hidupnya, di sisinya selalu. Dia hanya tertawa kecil. 


Kusandarkan kepalanya di bahuku, seperti dulu aku pernah bersandar di bahunya sambil menghabiskan roti gulung yang dibawakannya untukku. Kali ini aku memeluknya erat. Menghalau dingin yang seketika membuat batuknya semakin keras.


Perlahan, dia terlelap. Jemarinya masih menggenggam erat tanganku. Punggungnya naik turun perlahan dalam pelukanku. Dia tampak kelelahan.


Ruang-ruang kosong dalam jiwa perlahan terpenuhi. Sesak di dada, kini sudah bisa kuterjemahkan, rindu. Betapa aku begitu ingin memeluknya lebih lama lagi. Namun, tampaknya itu hanya cukup untuk membuatku memenangkan pertaruhanku dengannya tadi.


Baru setengah jam aku menemaninya duduk dan terlelap, genggaman itu seketika terlepas. Lengannya lunglai menggantung. Punggungnya tak lagi naik turun. Aku memeluknya lebih erat. Tubuhku berguncang. Aku berteriak marah. Isyanaku telah pergi!


End

Komentar

Postingan Populer