Wanita Penjerang Air



Pada dini hari yang sunyi, wanita itu sudah melakukan kebiasaannya sejak dulu, menjerang air. Bunyi cetek dari kompor gas murahan mengakhiri kesibukannya sementara sambil menunggu air mendidih. Dia meninggalkan dapur, lalu masuk ke kamar mandi. 

Dari tempatku disandarkan, aku bisa menerka bahwa dia sedang salat. Dalam heningnya malam, takbir lirih yang disuarakan dari bilik sebelah dapat kudengar dengan jelas. 

Suara gemuruh air yang meletupkan gelembung tanda mendidih membuat wanita itu sedikit tergesa mendatangi dapur. Dimatikannya kompor gas, lalu dia membuka tutup panci agar gelungan uap dapat keluar bersama dengan panas yang membuat suhu air berkurang sedikit demi sedikit.

Wanita itu kembali ke bilik sebelah. Dzikir tasbih, tahmid, dan takbir memenuhi lengangnya suasana hingga azan Subuh bertalu-talu dari kejauhan. Seluruh penghuni rumah pun bangun, meriuhkan pagi yang sebentar lagi menjelang.

***

Bunyi gemericik air yang dia tuangkan dari panci ke ceret plastik mendandakan dimulainya kegiatan dapur sesi pagi. Panci yang telah kosong diisinya lagi dengan air untuk direbus. Biasanya dia akan menggunakannya untuk memandikan putra bungsunya yang masih balita.

Kami adalah sahabat lama sejak dia membawaku kemari beberapa tahun yang lalu. Setiap hari akulah yang pertama tahu masakan apa yang dibuatnya. Akulah yang melindungi agar hasil jerih payahnya tidak dicicipi cicak atau binatang kecil lainnya saat dia tidak ada. Selalu kuingat senyumnya yang menawan setiap kali selesai menghidangkan masakan sederhana nan lezat di atas meja. Gurat wajah yang seolah bangga dengan hasil karyanya. Dari tarian uap yang mengetuk-ngetuk dinding anyaman berrongga  pada bagian dalam diriku, aku tahu semua sajian itu tak terbantahkan lezatnya.

Namun, pagi ini ada yang berbeda. Dari ketukan keras yang ditimbulkan oleh pisau yang beradu dengan talenan saat mengiris bawang, sepertinya emosinya pagi ini sedang tidak baik-baik saja. Kucoba memindai apa-apa yang ada di antara kami. Rasanya tidak ada yang aneh. Tidak biasanya wanita berparas ayu ini bersikap tidak tenang. Sesuatu pasti mengusik hatinya.

"Maafkan Ibu, Nak. Pagi ini Ibu belum bisa masak ayam goreng," ucapnya pelan, lalu sebulir air mengaliri pipinya yang kuning langsat.

Oh, aku mengerti sekarang. Sejak beberapa hari ini si kecil merengek minta ayam goreng. Menu yang satu itu, sejauh pengalamanku merajai meja makan ini, sangat jarang terhidang. Tidak kupungkiri, dari aroma gurih yang menguar, rasanya pastilah lezat sekali.

Air di panci telah mendidih. Kali ini dia tidak membuka tutup panci seperti dini hari tadi. Kompor dimatikan. Tutup itu dibiarkan bertengger di sana demi menghalangi keluarnya panas dari air. Wanita itu beralih mengambil nasi sisa semalam, mungkin menu pagi ini adalah nasi goreng.

Setelah selesai menyiapkan bumbu seadanya dan menyeduh teh menggunakan air yang baru saja mendidih, dia memindahkan panci itu ke sebelah kompor menggunakan kedua tangan dengan diganjal dua lembar lap di kiri dan kanan. Nahas, belum sampai panci berisi air panas itu ke dudukannya, pegangan tangannya terlepas. Benda itu membentur meja masak lalu jatuh dan menumpahkan seluruh air yang ditampung. Air panas menggenangi lantai dan menyirami kedua kakinya hingga sebetis. 

"Kalau saja aku Nia Ramadani, pasti tidak akan seperti ini." Dia mulai meracau. Kondisi yang sulit tampak membuatnya tertekan.

Dia hanya berdiri di situ. Tidak bergerak walau sekadar memperbaiki keadaan. Wajahnya terlihat kesal. Dibiarkannya dapur yang berantakan. Dia sepertinya marah pada keadaan. Mulutnya beberapa kali menyebut-nyebut Nia Ramadani.

Si kecil masuk ke dapur, mungkin penasaran dengan suara gaduh tadi. "Ahahaha, ibu main air. Ayah, ibu main air!" 

Wanita itu membuang muka. 

Terdengar suara seseorang berjalan cepat ke dapur. Lelaki itu muncul dengan wajah bingung. Dia tidak bertanya, mungkin tahu wanitanya sedang kesal. Dimintanya si kecil untuk masuk menemui kakaknya yang sedang menyapu halaman. 

Wanita itu masih berdiri kaku. Sang suami mendekat. Tanpa berkata apa-apa, diraihnya kain rok istrinya yang basah, lalu memeras kuat-kuat. Lelaki itu merabai kaki sang istri yang basah, barulah dia bertanya, "Kakinya sakit tidak setelah tersiram air panas?" 

"Tidak," jawab sahabatku yang sepertinya sudah reda amarahnya. 

Beruntung, dia mengenakan rok panjang sehingga air panas tidak begitu melukai kedua kakinya. Pun udara pagi ini sangatlah dingin sehingga mampu sedikit meredam panas air yang menyiram sebagian tubuh sahabatku itu.

Sebuah kursi plastik ditarik agar wanita penjerang air itu dapat duduk. Dengan sigap lelaki itu membersihkan dapur yang berantakan. Digendongnya sang istri ke kamar mandi dan diambilkan pakaian ganti. 

Setelah semuanya selesai, wanita itu kembali ke dapur, sedikit terkejut melihat ruangan telah bersih dan rapi. Dia melanjutkan membuat nasi goreng bawang dengan muka cerah. Senyum tersimpul-simpul di wajahnya yang kini semringah. 

Aroma tumisan bawang memenuhi ruangan, menari-nari di dapur, lalu menyusup ke ruang tengah, mungkin hingga ke ruang depan sana. Sebaskom penuh nasi ditumpahkan di wajan. Nasi goreng lezat yang mungkin tak akan sempat kupeluk pagi ini. Tak apa, aku bahagia melihat wajah ceria sahabatku telah kembali.

Aku tidak tahu siapa Nia Ramadani atau bagaimana kehidupannya. Yang kutahu sekarang, bahwa seindah apa pun hidup orang itu, belum tentu sebahagia sahabatku yang mampu menemukan syukurnya dalam keadaan yang tidak mudah ini.


Lamongan, 12 Agustus 2021.

Komentar

Postingan Populer