Wanita Berhijab Itu
"Bu, beli bumbu rawonnya!" Seorang wanita berkerudung panjang sedang membeli bumbu masak di pasar.
"Iya, Neng, pilih saja di situ," jawab ibu penjual bumbu.
Di tempat itu juga tersedia sayur-sayuran segar. Hurin, perempuan bergamis dan kerudung panjang itu pun memilah milih beberapa sayuran, lalu membayar belanjaannya.
"Siapa itu, Mak Yah?" tanya seorang pembeli yang sejak tadi mengamati.
"Oh, Neng Hurin, Yu Ti. Itu lho, yang rumahnya dekat kantor polisi. Dua hari sekali biasanya dia belanja ke pasar," terang Mak Yah.
"Ibu muda jaman sekarang, pada males masak. Sukanya beli bumbu jadi." Yu Ti, penjual daging itu mencibir.
Setelah membayar sayur, Yu Ti pun kembali ke lapaknya yang dijaga seorang anak SMA laki-laki. Nurman, namanya. Seorang anak kelas tiga SMA yang baru tiga bulan ini bekerja kepada Yu Ti. Dia anak yang rajin dan jujur.
Yu Ti senang dengan anak muda yang disiplin dan ulet seperti itu. Setiap pagi ia bekerja kepada Yu Ti, lalu sebelum dhuhur anak itu akan pulang. Setahu Yu Ti, Nurman sekolahnya masuk siang.
Hari-hari berikutnya, seringkali Yu Ti bertemu Hurin di lapak Mak Yah. Wanita berusia kisaran tiga puluhan itu selalu mengenakan pakaian yang syari.
"Pakaiannya pasti mahal itu. Kerudungnya saja lebar-lebar. Belum lagi gamisnya. Apa ndak risih ke pasar dengan pakaian seperti itu?" gumam penjual daging yang cukup tersohor di pasar itu.
Ia ingat betul, wanita bernama Hurin itu sering sekali membeli bumbu-bumbu jadi semacam rendang, soto, krengsengan, opor, dan gulai. Akan tetapi, kenapa tak pernah sekali pun wanita itu membeli daging di tempatnya? Sampai di sini, Yu Ti merasa tidak suka. Bukankah daging jualannya kualitas paling bagus yang ada di sini? Apa yang kurang dari lapaknya? Lagi pula, rasanya wanita itu tak pernah menyapanya sekali pun, padahal, bukan sekali dua kali mereka bertemu. Paling hanya tersenyum saja.
Ramadan tiba. Yu Ti merasa semakin penasaran dengan Hurin. Sepertinya ia termasuk kalangan berada. Sekali waktu Yu Ti pernah mendapati Hurin datang ke pasar menggunakan taksi.
"Pemborosan!" gerutunya.
Sebagai penjual daging, dirinya terhitung orang yang cukup kaya. Tapi, seumur hidup, tak pernah sekali pun ia naik taksi. Ia setiap hari pulang pergi ke pasar hanya naik becak. Karena penasaran, ia pun bertanya pada teman arisannya yang juga tinggal di daerah sekitar kantor polisi.
Benar dugaannya. Wanita itu memiliki rumah yang cukup luas, meski tidak sebagus rumahnya. Wanita berhijab itu juga sangat jarang keluar. Sebagai orang yang kaya, keluarga Hurin ternyata pelit. Mereka tak pernah ikut menyumbang dana untuk sosial, atau bahkan membagi-bagikan sembako seperti yang dilakukannya setiap ramadan.
Demi memenuhi rasa penasarannya, di bulan puasa ini Yu Ti sengaja membantu teman arisannya untuk membagi-bagikan sembako di sekitar kantor polisi, daerah tempat tinggal temannya itu.
Sore yang teduh, dengan membawa plastik besar berisi beras, gula, minyak, dan telur, Yu Ti mendatangi rumah wanita yang selama ini dimata-matainya.
Ia pun mengetuk pintu. Di dalam rumah sepertinya ada banyak anak kecil. Ramai dan gaduh sekali. Indra penciumannya menangkap aroma masakan rendang yang menggugah selera. Ia pun memutuskan untuk menguping sebelum mengetuk pintu lagi.
Suara-suara tadi perlahan berhenti, berganti bunyi televisi yang samar-samar terdengar dari luar.
"Ibu, tadi katanya masak rendang?" tanya sebuah suara anak perempuan.
"Iya, kenapa, Sayang?" Nah, ini suara Hurin. Dirinya hafal betul warna dan nada suaranya.
"Kok ndak ada dagingnya? Bunda janji hari ini mau masak daging, kan?"
"Oh, dagingnya sudah tidak kelihatan, ya?"
"Sudah Husna aduk-aduk, Bunda, tapi kok nggak nemu apa-apa?"
"Begini, Husna, mungkin dagingnya sudah hancur karena bunda terlalu lama masaknya," jawab sebuah suara. Dahi Yu Ti mengernyit. Sepertinya suara ini tidak asing.
"Makanya, Bunda, kalau masak jangan kelamaan terus! Husna kan pingin makan daging!" Suara gadis kecil itu terdengar merajuk.
Lelah menguping, Yu Ti memutuskan untuk mengetuk pintu lagi. Tak lama kemudian, seseorang membukanya.
***
Yu Ti, wanita yang selalu tampak tegas dan kuat itu kini duduk di sofa kesayangannya tanpa tenaga. Apa yang dilihatnya di rumah Hurin tadi membuatnya terpukul.
Didapatinya rumah dan wanita itu tak seperti yang dibayangkannya. Bagian dalam rumah itu terlihat luas. Begitu los karena saking minimnya perabotan yang ada. Ada tujuh anak dengan usia berbeda berdesakan di ruang tamu tanpa alas itu, seorang lelaki dewasa, dan Hurin. Semua berkumpul menanti waktu berbuka. Hanya dalam sekali pandang, potongan demi potongan kejadian, telah berhasil ia rangkai.
Ya, Hurin adalah seorang ibu rumah tangga dengan tujuh anak. Suaminya adalah supir taksi yang selalu mengantarnya ke pasar dua hari sekali.
Ia akhirnya mengerti bahwa wanita bernama Hurin itu memang pandai berbohong. Masakan mewah dengan aroma menggugah itu tak pernah sekali pun diisi daging. Dan selalu direbus lama agar bisa memberi alasan kepada anak-anaknya. Alasan yang entah sampai kapan akan bertahan.
Sebenarnya, ia tidak akan segundah dan semalu ini kalau saja ia tidak tahu bahwa anak tertua di rumah itu adalah anak SMA yang bekerja di tempatnya. Yang selalu jadi pendengar atas semua nyinyirannya pada wanita berwajah teduh itu. Seorang anak lelaki yang terus saja bersikap baik dan ramah kepada wanita yang rajin meng-ghibah-i ibunya.
_Selesai_
Komentar
Posting Komentar