Wanita Bayangan

Mumpung masih pagi, saya jalan-jalan ke tempat mertua, pamer anak yang sudah mandi. Kepada mertua pun harus branding, kan? 

Sampai di sana, saya duduk di bangku kayu panjang, diguyur sinar matahari pagi. Sudah lama tidak berjemur seperti ini. Hangat sinar matahari menyapu dingin yang sejak semalam menyelubungi. 

Dulu, saat masih hamil, saya rutin berjemur seperti ini. Duduk di depan warung gethuk milik Ibu, menonton lalu lalang kendaraan, dan sesekali menyapa pembeli.

Kala itu, pagi yang dingin membuat saya awet bergelung di kamar. Suami mengajak saya senam pagi sambil menunggu sinar matahari menyorot halaman rumah.

"Aku capek. Tak berjemur saja di depan. Sudah ada sinar sedikit." Saya berpamitan.

Ibu mertua yang berjualan di depan melihat saya datang dan mencari tempat yang pas untuk berjemur.

"Lungguh ndek bayang kono, Nduk." Ibu menunjukkan tempat. (Duduk di bayang situ, Nduk.)

"Nggeh." 

Saya manut saja, meski aneh rasanya. Niatnya berjemur, tapi disuruh berteduh di bawah bayangan. Di depan rumah memang ada dua pohon mangga besar. 

Suami datang melihat ke depan, memantau istrinya. Melihat saya berteduh, dia pun bertanya, "Katanya mau berjemur?"

Dia tahu saya tidak suka panas-panasan. Dari cengirannya, saya tahu dia mengira saya mengakalinya saat bilang mau berjemur tadi.

"Sama Ibuk suruh duduk di bayangan. Ya aku di sini."

Dia menghela napas panjang. 

"Bayang itu dipan, bukan bayangan."

Lalu saya yang nyengir, merasa terdampar di luar jawa. Bayangmu bukan bayangku, rupanya. 

Komentar

Postingan Populer