Ujian


Ujian

Libur lebaran lalu, ada kenangan tak terlupakan antara saya dan adik pertama tapi rasa musuh bebuyutan. Sebagai saudara, kami sudah terlatih adu pamer, sok, dan playing victim.

Kalau itu, dia bercerita tentang pengalamannya menjaga ujian anak di sekolah tempat dia mengajar. 

"Di tempatku kalo ada anak ikut ujian susulan, seberapa pun banyaknya mata pelajaran yang ujiannya menyusul, semua langsung selesai satu hari," ceritanya, memprovokasi jiwa nyinyir saya.

"Ujian susulan kok gak berkualitas!" Saya ngedumel. 

"Misalnya nyusul lima mapel, ya tak kasih lima lembar jawaban. Bahkan, tanpa lembar soal." Dia bercerita sambil sesekali ngakak. 

"Heh, yang bener jadi guru. Aku, nih, ya, ngajar fiqh diniyah aja, kalo ujian, satu kelas dua puluh anak, per anak dapat sepuluh soal yang semua soalnya sekelas ga ada yang sama. Aku bikin 200 soal dengan takaran variasi tingkat kesulitan yang sama per anaknya. Soalnya live tes lisan malah. Dari dulu aku gak percaya tes tulis." Berbuih-buih saya memamerkan mutu diri. Kapan lagi, ya, kan? 

"Itu nyari ribet, namanya. Aku gitu karena muridnya sangklek semua. Misalnya aku ngasih lembar jawaban komputer, eh, malah 50 pilihan ganda diisi semua." Dia mulai sesat. Maumu kek mana, Bambang?

"Lah ya bener, toh, diisi!" Saya tak terima.

"Apaan! Lha soalnya aja cuma 40!" pungkasnya.

😑

Lamongan, 8 Juli 2022.

Komentar

Postingan Populer