Tetangga Baru



Pada sore yang teduh dengan semilir angin yang melenakan, Hamdan semringah menyapa tetangganya yang baru dua hari pindah. Dirinya pun disambut tak kalah ramah dan dipersilakan duduk di kursi kayu yang sengaja diletakkan untuk bersantai di depan rumah. Sepiring singkong goreng dan dua cangkir kopi memeriahkan perkenalan sore itu.

"Jadi, di sini, setiap malam, akan ada tukang sampah yang berkeliling untuk mengangkut sampah yang sudah dibungkus kresek dan diletakkan di depan rumah, Mbah. Bayarnya murah, hanya sepuluh ribu sebulan," jelas Hamdan.

Mbah Hanan hanya tersenyum dan mengangguk.

"Apa semua harus ikut?" tanya lelaki yang sudah memutih rambutnya itu.

"Mboten, Mbah. Yang penting sampahnya dikelola dengan baik, tidak masalah."

Pembicaraan berlanjut dengan Mbah Hanan yang lebih banyak bercerita tentang pengalamannya, sebagaimana kebiasaan orang-orang tua yang senang bercerita. Hamdan pun dengan setia menyimak dan sesekali menimpali. Keduanya berbagi pengalaman diiringi senda gurau sehingga tanpa terasa waktu sudah hampir maghrib. Kedua lelaki yang sudah akrab itu pun berangkat ke masjid bersama-sama.

Ramadan tiba. Sore itu, istri Hamdan terkejut mendapati dapurnya penuh kepulan asap sampai-sampai nyaris tidak dapat melihat apa pun di sana. 

"Mas, dapurnya penuh asap!"

Hamdan yang sedang membaca buku di ruang tamu segera mendatangi dapurnya yang bak tertelan asap. 

Benar yang diucapkan istrinya. Rumah mereka sudah sering kemasukan asap sejak beberapa minggu sebelumnya. Namun, kali ini, asapnya jauh lebih banyak. Tampaknya, memasuki bulan puasa, Mbah Hanan membakar sampah dalam jumlah yang lebih banyak.

Segera Hamdan dan istrinya membuka semua pintu dan jendela yang ada di rumah. Sayangnya, kepulan asap yang menelusup malah makin banyak dan leluasa.

Bingung, mereka pun menyalakan semua kipas angin yang ada untuk menghalau asap tersebut. Karena tak cukup banyak kipas yang tersedia, mereka bergantian menyalakannya di ruangan-ruangan, lalu segera menutup pintu dan jendela.

Satu jam berlalu, asap masih tersisa sedikit. Meski tidak lagi membuat sesak, bau sangitnya tidak bisa hilang begitu saja. Suami istri itu pun tertawa memikirkan jemuran pakaian mereka di halaman belakang rumah.

"Assalamu 'alaikum!" teriak sebuah suara dari luar.

Putri mereka membuka pintu, lalu langsung berlari ke tempat ayahnya yang duduk kelelahan di depan kipas angin. Sang ayah menjawab salam dan tersenyum menyambut putrinya.

"Rumahnya bau sangit, Yah. Ih!" keluh gadis berusia sepuluh tahun itu sambil menggosok-gosok hidungnya.

Sang ayah yang gemas melihatnya segera menarik dan memencet hidung itu sambil tertawa.

"Anak ayah datang-datang kok enggak salim dulu!" goda Hamdan.

Gadis itu pun tergelak lalu mencium tangan ayahnya.

Tak lama kemudian, sang ibu datang dari arah belakang rumah dengan membawa tumpukan pakaian yang sudah kering.

"Sini, Ibu! Syaina bantu bawa," pinta gadis manis yang masih mengenakan seragam TPQ itu.

"Boleh." Dia membagi bawaannya kepada putrinya, lalu bersama-sama mereka membawanya ke kamar.

"Pakaiannya jadi bau sangit, Bu!" gerutu Syaina dengan raut wajah sedih.

Sang Ibu tersenyum, lalu membelai kepala putri semata wayangnya. "Tidak apa-apa, Sayang. 'Kan nanti bisa disemprot pakai pewangi."

Syaina tersenyum senang mendengar jawaban ibunya. Dengan berbalapan, mereka melipat helai demi helai pakaian hingga selesai.

***

Setiap hari, sejak kepindahannya, Mbah Hanan selalu membakar sampah di halaman belakang.

Hari ketiga Ramadan, di malam selepas salat tarawih, Syaina, putri kesayangan Hamdan dan istrinya itu terbatuk-batuk. Semakin lama suara batuknya semakin mencemaskan. Gadis kecil itu demam tinggi.

Esoknya, segera Syaina dibawa ke dokter oleh kedua orang tuanya. Setelah periksa dan menebus obat, mereka pun pulang dengan perasaan tak nyaman.

"Mas, kita harus bicara dengan Mbah Hanan. Asap dari sampahnya tidak bisa seumur hidup menyelimuti keluarga kita. Lihat Syaina! Sampai kapan kita harus bersabar, Mas?"

Lelaki itu hanya menunduk mendengarkan istrinya berkeluh kesah. Wanita yang biasanya sabar dan tenang itu mulai tidak dapat menahan diri lagi jika berkaitan dengan kesehatan putrinya. Hamdan pun sedang memikirkan jalan keluar dari masalah ini. Asap bakaran sampah dari rumah sebelah makin menampakkan efek buruknya. Akan tetapi, nuraninya tak tega. Dia tak sampai hati jika harus menegur tetangganya itu.

"Kita sudah bersabar, Mas. Anak kita butuh udara yang bersih. Apa salahnya membicarakan ini baik-baik dengan mereka?"

"Dek, mereka itu sudah tua. Bukankah Mas sudah cerita bahwa kehidupan mereka sedang tidak mudah? Kenapa kita harus menambah beban mereka dengan memberikan rasa bersalah? Beri waktu Mas untuk memikirkan ini semua. Kita akan temukan solusi. Ini bulan suci, bulannya orang-orang yang menahan diri. Mari kita sama-sama menahan diri kita sedikit lebih lama."

Wanita itu hanya diam menatap sendu anaknya yang sedang tidur. Sungguh dia tak tega melihatnya harus menderita seperti ini. Dia berjanji tidak akan membiarkan hal ini terjadi terus menerus. 

Lama mereka diam. Siang itu sedikit mendung. Keduanya berharap akan turun hujan sore nanti agar tidak ada asap yang menyelubungi rumah mereka lagi. 

Benar saja, Allah mendengar doa orang-orang yang bersabar. DiturunkanNya hujan untuk mensucikan bumi, memberi kehidupan, dan menentramkan hati yang bergejolak.

Mbah Hanan tidak dapat membakar sampah sore itu. Dia meminggirkan tumpukan yang setiap hari tak pernah sedikit, agar tidak hanyut terbawa air. 

***

Hujan sore itu tampaknya membawa ketenangan bagi keluarga kecil Syaina. Esok paginya, dengan senyum terkembang, istri Hamdan berbelanja lebih banyak dari biasanya. Mereka berniat menyambangi rumah tetangga baru mereka sore nanti.

Azan Asar berkumandang. Masakan telah matang dan pintu-pintu telah ditutup rapat. Mereka telah membeli satu kipas angin lagi demi menyambut kepulan putih yang setiap sore menyusup.

Namun, kosong, tidak ada asap. Tidak terlihat Mbah Hanan yang biasa menyapu dan membakar sampah di belakang rumahnya. Kedua suami istri itu pun tertegun. Tadinya mereka sudah berencana mengunjungi rumah sang tetangga saat asap-asap itu mereda. 

Karena asap yang ditunggu tak kunjung muncul, mereka memutuskan untuk segera berangkat saat itu juga. Mereka membawa rantang yang telah diisi masakan. Gulai nangka muda yang harum menggoda, ditambah beberapa ekor ikan tongkol yang sudah digoreng, dan tak lupa sambal terasi yang diberi perasan jeruk sambal. 

 ***

Dengan wajah hampa, kedua orang itu pulang. Langkah mereka lemas tak bertenaga. Tiba di rumah, mereka hanya duduk berdua di ruang tamu tanpa bersuara. Syaina juga sepertinya belum bangun sejak mereka tinggalkan tadi.

Keduanya hanya bisa menyesali kesalahan. Bagaimana bisa apa yang menjadi kewajiban mereka malah dikerjakan oleh orang lain. Dan parahnya, mereka tidak tahu dan malah merasa terganggu.

Saat bertamu tadi itulah mereka tahu bahwa Mbah Hanan dan istrinya menjalani Ramadan dengan amat nelangsa. Tak ada apa pun untuk berbuka selain air putih yang mereka rebus sendiri. Hamdan dan istrinya mendapati kedua lansia itu sedang tergolek lemah karena tak sahur dengan makanan apa pun. Betapa malunya istri Hamdan karena lupa memasukkan nasi ke dalam rantangnya. Wanita itu pun berlari cepat mengambil sebaskom nasi untuk tetangganya. 

Dengan rasa bersalah karena tak mengetahui ada tetangganya yang kelaparan, kedua suami-istri itu pun merawat Mbah Hanan dan istrinya. Mereka menyuapi kedua lansia tersebut, menyiapkan segala kebutuhan tetangganya yang sedang sakit, dari obat, selimut, hingga kebersihan rumah. 

Masuk ke dapur, tak ada sebutir beras pun tersisa, gas LPG sudah hampir habis, dan yang paling mengharukan, tak ada lagi kegiatan membakar sampah di sore hari, Hamdan terduduk lesu di kursi plastik melihat semua itu. Mbah Hanan kini tergolek lemas. Tidak ada yang tahu apakah kemarin sempat ada makanan yang menyapa lambung mereka, karena tak satu pun mau bercerita. 

Tampaknya kiriman dari anak-anak Mbah Hanan sedang tidak lancar. Tak satu pun diantara keduanya yang mengadukan kesusahannya. Hamdan dan istrinya pun menahan diri dari pertanyaan-pertanyaan yang bisa saja membuka apa yang sedang ditutupi oleh Mbah Hanan dan istrinya, meski pun mereka sudah bisa menduga.  

Hamdan menutup wajahnya dengan telapak tangan. Hal yang paling menyesakkan sore itu bukan hanya keadaan tetangganya, melainkan sebuah kenyataan yang menampar mereka di perjalanan pulang tadi.

"Ada apa dengan Mbah Hanan, Dan?" tanya seorang tetangga depan rumah sesaat setelah mereka keluar dari rumah Mbah Hanan.

"Beliau dan istrinya sakit, Kang," jawab Hamdan lesu.

"Oh, iya, baru ingat, dari kemarin saya mau bilang kalau Pak Juki yang biasa mengangkut sampah sedang tidak bisa melakukan tugasnya. Istrinya masuk rumah sakit. Kira-kira sejak awal puasa kemarin. Jadi kita dianjurkan oleh Pak RT untuk membawa sendiri sampah ke TPA di dekat pasar sana."

"Lho, kok sampah saya kosong terus setiap kali istri saya meletakkan bungkusan sampah di depan? Ke mana perginya? Apa ada yang membawakan?"

"Sebenarnya sejak beberapa hari ini saya sering lihat Mbah Hanan membawa sampah ke belakang. Tapi saya juga baru ingat kalau beliau 'kan tidak ikut setor sampah. Jadi, mungkin beliau berniat membantumu membereskan sampah, Dan."

_Selesai_

Komentar

Postingan Populer