Takziah

Saya sering merasa nggak enak kalau ketemu teman-teman SD. Meski cuma di WAG sekalipun. Bukan apa-apa, mau gak mau, mereka itu buku dosa. Saya tidak akan pernah lupa kejadian dulu itu. Apa lagi mereka.

Kala itu, kami sudah lulus semua. Kira-kira saya sudah masuk tsanawiyah. Nah, saat itulah tragedi itu terjadi.

Dari Ibu, saya mendengar kabar bahwa ibundanya Bu Ifa meninggal. Hampir semua teman akrab dan dekat dengan mantan wali kelas dua itu, begitu pula dengan ibunya. Teman-teman seangkatan sering datang ke kediaman beliau untuk les. Karena itulah, saya merasa perlu memberitahu mereka kabar duka itu.

Seperti yang saya duga, teman-teman yang saya beritahu, mereka kaget dan sedih mendengarnya. Atas inisiatif sendiri, mereka pun berangkat berombongan ke kediaman Bu Ifa. Saya sendiri tidak ikut karena tidak pernah dapat izin keluar jauh. Setahu saya saat itu, Ayah dan Ibu sendiri yang datang bertakziah. 

Teman-teman berangkat sepertinya dengan berjalan kaki, sebagaimana kebiasaan saat les dulu. Jauh, tapi tidak terasa saking terbiasanya. Bawa beras juga dua kiloan dan beberapa bawaan lainnya. Saat mereka tiba di ujung gang, semua terkejut, sekaligus merinding. Bagaimana tidak. Mereka melihat ibunya guru kami itu sedang duduk di teras rumah. Sementara keadaan sekitar sedang sepi.

Saya tidak akan menceritakan apa yang terjadi selanjutnya. Salah satunya karena lupa. Ehm.

Siapa juga yang mau mengingat kejadian memalukan itu. Karena ternyata yang meninggal bukan ibunya Bu Ifa yang guru saya, tapi Bu Ifa yang temannya Ibu saya yang juga guru. 

Sampai sekarang, saya tidak berani bertemu guru saya itu. Ampuni saya, Bu!

Komentar

Postingan Populer