Sunyi di Merabu

Pagi ini dan tiga belas pagi sebelum ini berlalu dengan memuakkan. Semestinya suara gemericik Sungai Lesan, aroma dedaunan hutan hujan, dan sejuknya hawa dapat menyegarkan hati dan pikiran. Tapi yang ada malah aku tak berdaya di atas kasur lapuk yang semakin tepos karena terlalu lama dipakai berbaring. Usia kasur ini saja sudah lebih tua dari Yosi, anak pertamaku yang duduk di kelas tiga SD. Ingin rasanya aku melempar sesuatu ke radio lama yang mengalunkan lagu-lagu yang juga lama. 


Kata orang, kawasan Karst yang eksotis di desa ini dapat memancarkan aura positif. Kata orang, penduduk Dayak Lebo adalah orang-orang kuat yang tahan akan berbagai rintangan. Kata orang, madu hutan desa kami yang berasal dari bebungaan hutan hujan, yang biasa kami tiriskan setahun sekali, sangatlah berkhasiat bagi kesehatan. Akan tetapi, di sinilah aku, bernasib sama seperti empat puluh enam orang lainnya di desa ini, terkapar tak berdaya oleh virus yang berasal dari tempat nun jauh di Wuhan sana.


Sesekali napas terasa lega, sedetik kemudian, seperti dipenuhi kapas basah yang memenuhi rongga dada. Air jernih Danau Nyadeng hanya memberikan sensasi segar sesaat untuk kemudian kembali sesak lagi. Beberapa potong roti pemberian anggota Kerima Puri, sebuah kelompok swadaya masyarakat desa, menjadi pengganjal perut yang bahkan sebenarnya tidak lapar. Makanan yang seharusnya manis dan lezat itu pun terasa ketir dan susah ditelan. 


Desaku sepi. Wilayah seluas 22.000 hektar ini hanya dihuni oleh para pesakitan sepertiku. Terpenjara di balik bedeng-bedeng triplek biru rumah panggung. Tanpa keluarga, tanpa cukup makanan. Semua orang diungsikan ke desa-desa sebelah demi tidak tertular virus. 


Rasanya benar-benar seperti berada di gua batu gamping perbukitan Karst. Sunyi dan lengang. Rasa ngilu pada persendian di seluruh tubuh memporak-porandakan suasana yang seharusnya menentramkan. Sambil menahan perih tenggorokan, aku juga menahan tawa, pada bagian mana kesunyian dapat menentramkan saat seseorang hanya berteman dengan rasa sakit dan jauh dari orang-orang tercinta. Aku rindu Yosi, anakku. Juga rindu Juli, istriku.


Betapa virus ini tak pandang pada paru-paru siapa dia bersemayam dan beranak-pinak. Luntur sudah ketangguhan lelaki Dayak Bale yang senantiasa menaklukan hutan, sungai, dan gunung. Tidak ada mantra yang dapat menyapu bersih wabah ini sebagaimana para leluhur menyabetkan pedangnya ke leher penjajah dari jarak puluhan kilometer. Oh, Tuhan, berapa lama lagi cobaan ini menyiksa?


Jika saja masih tersisa madu hutan panen lalu. Dari tiga ribu liter hasil panen warga, tak setetes pun tertinggal sekadar untuk mengobati diri sendiri. Semua telah berubah menjadi uang. Uang itu bahkan sudah tidak ada lagi baunya. 


Seandainya aku sekarat di sini, tentu tak akan ada pertolongan apa pun yang memungkinkan untuk bertahan. Seratus tujuh puluh tiga kilometer menuju rumah sakit hanya akan berakhir sia-sia karena terlanjur mati di perjalanan. Betapa melaratnya orang pedalaman. 


Suara burung berdendang riang seolah mengolok-olok. Aku tak berdaya melawan rasa sakit yang melumpuhkan ini. Masih bisakah aku menemui anak dan istriku lagi? Bagaimanakah kabar mereka kini yang pasti sudah kehabisan uang? Adakah waktu untukku menemani mereka lagi, bernyanyi sambil memandangi air danau yang berwarna hijau toska? Salahkah aku yang, untuk kali ini, memilih benci dan cemburu pada burung-burung?


Tepat saat keterpurukan menyelimuti pikiran, sebuah pesan masuk di ponsel butut menyita perhatian. Bukan berita bahagia penambah imun. Agustinus Karna, kepala desa yang menjadi bagian dari empat puluh tujuh penyintas korona telah dipanggil Tuhan. Tubuh lemahku semakin luruh. Habis sudah harapan desa ini. Lelaki bijaksana itu pergi setelah perjuangan panjang bertarung dengan virus dalam tubuh sendiri. 


Terseok-seok aku menutup jendela. Hari menjelang siang. Demi rindu yang menggelayut di pelupuk mata, aku membaca ulang pesan-pesan lamaku dengan Yosi dan Juli. Jika saja bisa kudengar tawa riangnya atau canda manja ibunya, kukira hidup tidak akan sesukar ini. 


***


Hari berlalu tapi seperti terpaku ditempatnya. Pagi menunggu malam, lalu malam menunggu pagi. Setiap waktu adalah siksaan. Aku dan penghuni desa sekarang hanya bisa meredam sakit, rindu, dan ... lapar. Saat bantuan tak selalu lagi datang, saat semua sudah mencapai titik penghabisan, aku hanya bisa menunggu, menjaga kewarasan agar tidak membiarkan kaki ini berlari sendiri lalu terjun di kedalaman lima puluh meter Danau Nyadeng. 


Perih. Aku tidak tahu apakah sedang kelaparan atau tidak karena perut terus saja menggerus diri sementara lidah tak sudi memasukkan apa-apa lagi selain air. Tapi aku masih ingin bertahan, demi rindu yang menyiksa sekaligus menguatkan. 


Tidak ada lagi yang berkunjung dari pemerintah. Desa ini seperti desa mati dan tak dipedulikan. Aku dan beberapa penghuni rumah sekitar saling memandang dengan cemas dari jendela. Setiap mata menyiratkan kepasrahan, atau keputusasaan? Langit menggelap seirama senja menuju peraduan. Malam akan kembali memeluk kami dalam sunyi yang lebih dalam. Ini hanya soal waktu: Apakah kami akan mati oleh virus, kelaparan, ataukah kesepian.


Komentar

Postingan Populer