Sepatu Baru Hayya

"Ibu, Hayya ingin sekolah, seperti teman-teman. Fida, Hana, Ais, dan Kiki, semua sudah daftar," ucap Gadis kecil yang suka makan Roma Wafello itu. Pagi itu dia menemani Ibunya memasak sayur sop di dapur.

Sang Ibu menoleh, lalu tersenyum melihat wajah Hayya, anaknya, yang penuh harap. Matanya mengerling indah dan senyumnya merekah, Hayya sudah sangat ingin bersekolah. Setiap pagi jam 06.30 Hayya akan duduk di jendela memandangi anak-anak sekolah yang lewat di depan rumahnya.

"Iya, Nak, insyaallah. Hayya sabar dulu, ya!" jawab Ibu Hayya.

"Yee, Hayya sekolah! Hayya sekolah!" teriaknya riang.

"Nanti Hayya punya banyak teman, ya, Bu? Terus, tas baru, seragam baru, buku baru, sepatu baru, semua baru! Iya, 'kan, Bu?"

Ibu yang sedang memotong sayuran hanya mengangguk sambil menyunggingkan senyum.

Sorenya, setelah salat ashar bersama Ibu, Hayya berdoa memohon kepada Allah yang Mahakuasa. Hayya sangat yakin Allah pasti mendengar dan mengabulkan doanya.

"Ya Allah, Hayya ingin sekolah, biar bisa jadi anak yang pintar dan salihah. Berikan rezeki yang banyak, ya, buat Ayah dan Ibu Hayya biar bisa belikan Hayya peralatan sekolah. Amin." 

Terdengar Ibu mengamini doa Hayya yang sungguh-sungguh. 

Ayah dan Ibu Hayya senang melihat putri kecil mereka bersemangat. Akan tetapi, sekolah belum akan mulai sampai wabah Corona mereda. Belum lagi, butuh banyak biaya untuk membayar dan membeli kebutuhan sekolah. Maka baik Hayya maupun orangtuanya, semua berusaha dan berdoa agar harapan mereka terwujud.

Setiap hari Ayah bekerja dengan giat dan penuh semangat. Pekerjaan Ayah Hayya adalah sebagai penjual ikan di pasar. Ayah berangkat lebih pagi dan pulang lebih lambat dari biasanya. Sementara itu, untuk membantu agar dapat lebih banyak uang, Ibu Hayya membuat berbagai jajanan untuk dititipkan di warung-warung tetangga. Tidak lupa, si manis Hayya juga ikut membantu Ibu membuat kue setiap hari. 

"Hari ini Ibu mau bikin apa?" tanya Hayya antusias.

"Hmm, apa, ya? Kita buat keripik tempe saja, pasti banyak yang suka. Nanti kita bikin sama-sama, ya!" kata Ibu.

Hayya mengangguk penuh semangat. Dia sudah berencana untuk membantu apa saja yang bisa dilakukannya untuk meringankan pekerjaan ibunya. Biasanya Hayya membantu mencuci piring, menyapu lantai, atau menimbang tepung. Tidak sedikit pun Hayya mengeluh atas semua kesibukannya. Hayya juga menurut setiap kali diminta Ibu untuk membeli garam atau gula ke warung depan rumah. Semua dilakukannya dengan ikhlas. 

Hari yang dinantikan akhirnya tiba. Ibu membawa Hayya mendaftar ke SD yang tidak jauh dari rumah. Hayya sangat senang bertemu dengan guru-guru dan melihat bangunan sekolah. Dia sudah tidak sabar ingin duduk di bangku paling depan di kelas nanti.

"Namanya siapa, Cantik?" tanya Bu Guru, ramah.

"Hayya Ahlal Jannah, Bu!" jawab gadis berkerudung putih itu dengan lantang.

"Wah, sudah pinter, ya. Kalau sudah besar mau jadi apa?" 

"Mau jadi presiden, Bu Guru. Nanti semua anak sekolah akan Hayya kasih hadiah buku yang banyak, yang bagus-bagus gambarnya, biar semakin rajin dan pintar, Bu!"

Mendengar ucapan Hayya, semua orang di kantor sekolah itu bertepuk tangan dan memuji keberaniannya. Sang Ibu tersenyum bangga melihat putri kesayangannya begitu lantang menjawab pertanyaan Ibu Guru. Tidak disangka, putri kecilnya ternyata ingin menjadi presiden.

Esoknya, Ayah membawa Hayya ke pasar untuk membeli seragam, tas, alat tulis, dan juga sepatu. Hayya melompat-lompat kegirangan di dalam toko sambil memeluk belanjaan. 

"Hore! Sekolah! Hore," teriaknya senang.

Hari berlalu dengan cepat bagi Hayya karena sangat bahagianya. Akan tetapi, ada satu hal penting yang tidak dapat Ayah dan Hayya beli hari itu, sepatu sekolah. Hanya Ayah yang menyadari semua itu karena memang uang yang dibawanya tidak cukup.

Hayya banyak tersenyum sejak hari itu. Gadis kecil berambut pendek itu semakin rajin membatu Ayah dan Ibunya. Hayya juga selalu berdoa setiap selesai salat. 

"Ya Allah, Terima kasih sudah memberi rezeki yang banyak buat Hayya. Tapi, Ya Allah, Hayya belum punya sepatu buat sekolah. Semoga Ayah dan Ibu dilapangkan rezekinya biar bisa beli sepatu. Amin," doa Hayya lirih agar ibunya tidak mendengarnya.

Hayya tahu Ayahnya sudah tidak punya uang lagi untuk membelikannya sepatu. 

"Allah 'kan Mahakaya, pasti nanti Hayya dapat sepatu," ucapnya di dalam hati.

Beberapa hari berlalu. Semakin dekat dengan tanggal masuk sekolah yang sudah diumumkan, semakin Hayya merasa cemas. Sampai saat ini dia masih belum juga punya sepatu. 

Saat bertemu dengan beberapa teman seumurannya, Hayya mendengar mereka semua sudah punya sepatu dan siap bersekolah. 

Hayya sedih, tetapi teringat kata-kata Ibunya, "Allah akan memberi kepada hambanya yang salih, jika hambanya meminta."

Hayya meyakinkan diri dan siap untuk lebih rajin membantu Ibu di rumah, juga berdoa dengan khusuk dan tanpa merasa bosan.

***

Dua hari menjelang masuk sekolah, Ibu Hayya diberitahu bahwa libur sekolah diperpanjang karena wabah masih mendera. Itu artinya hari masuk sekolah diundur. Hayya senang mendengarnya karena dirinya belum punya sepatu. Sebaliknya, banyak teman-teman Hayya yang bersedih karena tidak jadi masuk sekolah sebagaimana yang mereka harapkan.

Seminggu berlalu. Hari itu Ayah Hayya pulang dengan membawa sebuah kotak besar di dalam kantong keresek. Dengan cepat Hayya membukanya dan mendapati sepasang sepatu sekolah berwarna hitam yang cantik. Hayya sampai menangis saking bahagianya. 

"Terima kasih, ya, Ayah, Ibu, sudah membelikan Hayya sepatu yang bagus sekali," ucap Hayya. Air mata mengalir di kedua pipinya. 

"Iya, Nak. Hayya anak salihah dan rajin, pasti doanya dikabulkan oleh Allah," jawab Ibunya sambil mengedipkan sebelah mata.




Komentar

Postingan Populer