SEKOLAH


"Pokoknya, anak saya tidak akan saya sekolahkan sampai dia masuk SD. Kasihan, masih kecil," sesumbar saya kala itu. Bukan satu dua orang teman yang saya sesumbari begitu.

Sampai tiba masanya, saya pindah tempat tinggal. Niatnya agar lebih mandiri dan privasi bersama Suami dan Anak.

Nasib membawa kami tinggal di desa sebelah, di belakang masjid yang gandeng dengan PAUD dan SD. 

Alhasil, setiap hari, suara nyanyian dan keseruan PAUD di depan terdengar sampai ke rumah. Belum lagi, hampir setiap hari ada saja kegiatan baik play group maupun TK di jalan kecil di depan rumah.

Alif yang waktu itu masih berusia tiga tahun kurang, selalu menonton di jendela, persis seperti anak telantar yang mengintip di jendela sekolah. Mana pinggulnya ikutan goyang-goyang mengikuti gerakan pemanasan anak-anak kecil di depan rumah. 

Ditambah lagi, kalau papasan dengan rombongan PAUD yang lagi jalan-jalan sewaktu kami mau ke pasar, dia sudah sapa-sapaan sama bu gurunya. 

Enggak ada sebulan kami pindah, Alif sudah terdaftar sebagai murid play group depan. Sementara saya senewen memulang-mulangkan kalimat sesumbar saya sendiri dulu.

Sejak itu, saya mulai jadi bahan pembicaraan,  karena sayalah satu-satunya yang tidak menunggui anak saya sekolah, juga tidak menjemput kecuali secara sembunyi-sembunyi.

Alif banyak dikenal karena tingkah absurdnya di sekolah. Saya banyak dikenal sebagai ibu muda yang zalim.

Enggak tahu aja mereka, betapa pedihnya diusir-usir sama anak sendiri di sekolahnya. 

Lamongan, 30 Juni 2022.

Komentar

Postingan Populer