REKAMAN


Saya suka bernyanyi. Sering sekali ngerekam suara sendiri, lalu menumbalkan Suami buat jadi pendengar pertama. Kan, orang istimewa. Dengar-dengar, tumbal terbaik adalah orang terdekat.


"Dengerin, deh, Mas. Aku udah ngga fals lagi kalau nyanyi," puji saya untuk diri sendiri.


Nggak sia-sia nyetrika sampai selemari penuh. Playlist sepuluh kodi saya nyanyikan semua. Lipsync di nada tinggi. Hidup, kan, dibawa enak aja. Gitu.


Dia menerima ponsel  yang sudah siap memutar hasil rekaman. Wajahnya seperti nggak ada ikhlas-ikhlasnya. Tapi karena males ngomel, disetelnya juga.


Btw, saya percaya dia karena dia memang berkapasitas di situ. Dia mengerti nada, guru les gitar pada masanya, dan bisa mengomposisikan lagu. Saya yang tadinya asal bunyi sekarang kalau ngomel saja pakai nada dasar D dengan tempo cepat. Kalau emosi ya F genre seriosa.


Bukan main hebatnya saya bernyanyi. Rekaman diputar lamaaaa sekali, pakai headset pula. Dia mendengarkan sampai merem-merem. Bentar lagi pasti jadi artis ini saya. Dia bakal bikinkan saya lagu dan saya masuk dapur rekaman. Alahaayyy.


"Mas, kok lama? Gimana?" tanya saya sampai mesem-mesem. Nggak kuat nahan kebanggaan diri sendiri. 


"Ini tak putar sampai empat kali," jawabnya.


"Wah!!!!! Suka, ya? Saking bagusnya, ya? Akhirnyaaaaa!" Saya sudah mau lompat-lompat di kasur.


"Bukan! Dari tadi tak cari sisi mana bagusnya, tapi nggak ketemu-ketemu," jawabnya datar, lempeng, innocent.


Gagal masuk dapur rekaman, saya masuk dapur penggorengan.

Komentar

Postingan Populer