RAKET NYAMUK


Saya menyambut kedatangan Suami dengan pertanyaan, "Dapat, raket nyamuknya?"


"Dapat."


"Mana?"


"Masih di motor."


Dia pun mengambil, lalu memberikan kepada saya di kamar, di dalam kelambu bersama si bos kecil yang sudah lelap. Sejak beberapa menit sebelumnya, setelah menutup kelambu, saya sibuk menepuk-nepuki nyamuk yang terperangkap di dalam.


"Senang sekali," sindir Suami sambil menyerahkan raket kepada saya yang menerimanya dengan semringah.


"Wah, bagus sekali warnanya." Saya kesenangan. Sampai membuka plastiknya pun grogi, seperti belum pernah unboxing raket nyamuk.


Saking senangnya, saya tertawa-tawa sambil raketan di dalam kelambu. Kehabisan nyamuk, saya keluar kelambu, lalu mencari ke ruang tamu, ruang kerja, musalla, ruang tengah, gudang, dapur, dan kamar mandi. 


Sampai sini, saya heran. Ke mana nyamuk sebataliyon yang seminggu terakhir ini menyerbu rumah? Yang bikin saya tepuk amai-amai setiap hari? Saya nyaris ke belakang rumah, mencari korban, kalau saja tidak dialihkan oleh Suami ke ruangan lain sambil dia menunjuk-nunjuk nyamuk.


Belum puas, saya duduk diam selonjoran di ruangan yang biasanya banyak nyamuk. Mengumpankan diri.

Komentar

Postingan Populer