Rahasia Harisa 4: Polah
Saat keriuhan pagi di dapur telah berganti kesibukan di luar, Junia akan meninggalkan ruangan ini dan beralih ke ruangan lain di rumah. Dapur berubah lengang dan sepi. Hanya sisa sorotan matahari dari jendela dan bias-bias suara kehidupan di luar yang membuat tempat ini terasa agak hidup.
Biasanya aku menghabiskan waktu dengan menyapa para penghuni lain. Semua yang di sini umumnya tampak cerah. Yang paling ceria, tentu saja, si kembar tiga, cangkir-cangkir teh warna warni. Mereka layaknya tiga bersaudara yang selalu ribut tentang siapa yang paling indah dan disayangi. Ada juga si bijak jam dinding, dan sebuah lampu yang sedikit murung. Tidak lupa tiga sirih gading dalam tiga pot bening kecil yang di letakkan di dekat jendela. Mereka bertiga sedang senang-senangnya mandi cahaya.
Tiga cangkir lucu masih berdebat saat Junia memasuki dapur dan menutup jendela. Tampaknya dia sudah rapi dan bersiap pergi mengantar si kecil berkuncir dua untuk sekolah. Gadis kecil itu membuntut di belakang ibunya selalu ke mana pun melangkah. Tepat saat mereka akan meninggalkan dapur, si kecil takut-takut, merengek berkata ingin buang air besar.
Junia tampak kaget dan lelah, tapi tidak lama. Dia segera membongkar pakaian anaknya, lalu melarikannya ke toilet. Aku dan semua penghuni dapur tergelak melihatnya. Bahkan lampu yang murung itu pun terkekeh-kekeh. Pasti tidak mudah menangani anak-anak dengan segala tingkah mereka.
Seperti Junia dulu, saat masih kecil, dia hampir selalu berebutan dengan Julia, saudara kembarnya. Mereka tidaklah seiras, juga berbeda pembawaan. Jadi, tidak sulit bagi siapa pun membedakan mereka. Hanya saja, keduanya punya kebiasaan yang sama seperti gadis kecil berkuncir dua, putri Junia tadi. Neswari, ibu Junia dan Julia bukan main kewalahan menghadapi tingkah putri-putrinya.
Ingatan tentang Junia dan Julia membuatku memperhatikan kembali tiga cangkir yang berdebat tadi. Mereka sebenarnya sudah jelas sama cantiknya dengan warnanya masing-masing. Mereka juga sama disayangnya oleh Junia. Tidak pernah Junia hanya mencuci yang satu lalu meninggalkan yang lain. Tapi cinta memang begitu, akan selalu terasa kurang dan tidak pernah cukup. Bagaimana pun si bijak jam dinding memberi petuah, tidak akan membuat mereka tenang dan percaya bahwa setiap mereka istimewa.
Jika pun ada yang mampu membuat sedikit lebih tenang, ialah si ceret yang selalu mengalirkan teh hangat, membagikan semua yang dimiliki, agar yang lain dapat melakukan tugasnya dengan baik. Si ceret yang tak pernah iri kenapa Junia tidak pernah menyesap teh langsung dari corongnya.
Begitu Junia selesai dengan urusan anaknya, kedua ibu dan anak itu meninggalkan ruangan dengan langkah cepat-cepat. Aku kembali menikmati drama kericuhan tiga cangkir yang selalu tidak akur tapi saling menyayangi. Pencerita yang baik bermula dari penonton yang budiman.
Satu hal yang paling istimewa dari sepanjang hari tadi, ialah penyebab gelak tawa yang tak habis-habis sejak sore hingga pukul sepuluh malam. Kopi panas sudah dua kali diseduh, tapi peminumnya tak jua merasa penat. Julia datang! Dua bersaudara itu berbincang panjang di meja makan, melepas rindu. Kenapa kebetulan ini bisa begitu tepat?! Aku baru membayangkan tingkah mereka pagi tadi. Ha-ha.
Ah, ya, aku rasanya tidak berhenti tertawa jika ingat bagaimama mereka mengakhiri perbincangan. Saat Junia menyadari sesuatu ....
"Tunggu, Julia. Rasanya aku kenal bajumu ini. Astagaaa!! Ini bajuku, kan?"
Julia berusaha mengalihkan pembicaraan dengan pamit tidur. Sayangnya, itu tidak akan pernah berhasil.
Mereka kembali berulah seperti dulu, berlarian dan berebutan, bahkan sampai lupa meninggalkan cangkir kosong dan lampu yang masih menyala. Pada saat-saat yang seperti itulah aku merasa seolah masih bersama Neswari dan dua putri kecilnya dulu.
Malam yang melelahkan, di dapur yang lampunya belum dimatikan.
Komentar
Posting Komentar