Rahasia Harisa 28: Di Balik Layar
Sejak pagi, kulihat para penghuni rumah tidak sesibuk biasanya. Mungkin ini hari libur pascaujian sekolah. Si sulung dan si bungsu santai melihat ponsel sambil ditemani susu coklat kental manis hangat. Benar kata orang-orang, lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali.
Aku tidak tahu apakah masalah orang-orang dewasa di rumah ini sudah selesai atau belum. Tentang rumah makan mereka yang sepi, tentang keuangan juga, mungkin. Tetapi, aku melihat si ibu dan si ayah tampak tenang-tenang saja. Mereka juga sama santainya. Barangkali mereka ingin berdamai dengan keadaan. Barangkali mereka ingin meluangkan waktu untuk anak-anak.
Menjelang siang, mereka mulai bekerja sama memasak semacam kue dengan lava coklat keju di tengahnya. Tidak lupa appron dan topi ala chef, serta kamera. Menurutku, sih, ini lebih ke membuat konten dari pada membuat kue.
Pada akhirnya, aku mulai memahami bahwa mungkin inilah cara mereka berbahagia. Inilah cara mereka menjalin kasih sayang satu sama lain. Video konten mungkin hanya menghasilkan sebuah rekaman yang tertata rapi dan menarik. Tetapi, di baliknya, ada kehangatan yang menyeruak yang lebih berharga dari pada konten itu sendiri. Tawa-tawa yang asli, senyum yang tulus, bahagia yang alami. Ada lebih banyak cerita di balik sebuah cerita.
Mereka membuat kue dengan antusias, membersihkan dapur pun dengan semangat. Wajah-wajah sudah coreng-moreng oleh tepung dan adonan. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba permainan colek-mencolek sisa adonan berubah menjadi semprot-meyemprot air keran. Alhasil, air muncrat ke mana-mana. Dapur berubah menjadi wahana pertempuran air.
Ramai, meriah, seru bukan buatan. Setiap mereka menjelma menjadi anak-anak usia enam tahun yang kesenangan. Ketika kamera tidak lagi dinyalakan, kenangan sesungguhnya sedang direkam oleh ingatan.
Si bungsu menyempatkan diri menyelamatkan kue hasil kerja keras mereka ke ruangan lain. Dia juga menyingkirkan ponsel-ponsel agar tidak terimbas pertempuran. Setelahnya, dia kembali membaur ke arena.
Dua puluh sembilan hari aku di sini, ini salah satu momen terbaik yang kutemukan. Aku merasakan bahagia yang mereka rasakan. Belum pernah keluarga ini sebahagia hari ini. Meskipun untuk itu, aku jadi korban.
Aku patah. Seseorang di antara mereka tanpa sengaja menjatuhkanku lalu dia pun terjatuh menimpaku. Pertempuran pun berhenti. Semua prihatin melihat keadaanku.
Tidak apa. Aku tahu ini tidak disengaja. Satu-satunya yang kukhawatirkan adalah bagaimana aku akan bertemu dengan Junia nanti.
Dengan hati-hati, Winda meletakkanku kembali ke atas meja yang sudah dibersihkan. Menyadari keadaan dapur yang sudah sangat berantakan, mereka pun bergegas bekerja bakti memulihkan ruangan seperti sedia kala.
Malamnya, si bungsu merengek bagaimana dia akan menyimpan sisa cemilannya di meja seperti biasa. Dia bilang tidak suka pisang goreng yang dingin, jadi tidak mungkin menyimpannya di kulkas.
"Lalu, bagaimana kita akan mengembalikannya kepada pemiliknya nanti?" Pertanyaan terakhir si bungsu sebelum Winda menggiringnya ke kamar.
Setidaknya, itu mewakili aku. Akankah aku kembali bersama Junia? Akankah sesuatu yang sudah tidak sempurna akan mendapatkan perlakuan sebaik saat masih utuh?
Dapur, diiringi suara jangkrik yang setia sejak hari pertama aku tiba.
Komentar
Posting Komentar