Rahasia Harisa 3: Cerita Pagi
Junia senang menyeduh teh di pagi yang masih buta. Seperti tadi pagi, sebuah ceret berukuran tanggung meniupkan uap dari corongnya. Aku bisa melihat air panas di dalamnya memerah oleh dua kantung teh yang di ujung tali celupnya bergambar melati.
Saat Junia meletakkannya di sebelahku, aku merasa hangat. Itu teh dengan aroma melati yang syahdu. Sangat sesuai untuk dinikmati di pagi yang dingin dan sunyi.
Junia seorang penikmat ulung, terutama pada teh. Dia tidak meneguk kecuali jika tehnya sudah dingin. Junia lebih senang menyesapnya perlahan selagi hangat sedikit panas. Pada kali pertama cangkirnya diangkat, aku sudah hapal, Junia memejamkan mata dengan khidmat, seolah dia meninggalkan kami semua untuk sepersekian detik.
Kepada suaminya, Junia menjabarkan bagaimana cara dia membuat tehnya setiap pagi, apa merk tehnya --Junia senang menjajal berbagai varian teh yang bisa dia jumpai di swalayan--, berapa takaran gula, perbandingan air mendidih dan air dingin, sekaligus dengan perasaan seperti apa dia membuatnya.
Ritual pagi suami Junia, kukira, memang itulah adanya. Lelaki itu mendengarkan dan sesekali menimpali. Terkadang tampak seperti mengerti, kali lain dia kentara sekali tidak bisa mengikuti arah penghayatan istrinya atas secangkir teh yang terlihat tidak terlalu berbeda dari sebelum-sebelummya. Bagi Junia, lelakinya memang tak harus mengerti. Hanya aku di sini yang mengerti apa yang Junia mau dan rasakan. Aku menemaninya sejak dia masih berusia hitungan jari. Aku memahaminya seperti seorang ibu mengenal anaknya sendiri.
Cerita pagi Junia baru berhenti saat ada langkah-langkah kecil seorang tuan putri memasuki dapur. Gadis berusia enam tahun itu datang membawa atmosfer yang warnanya seperti bunga matahari. Sang ayah menyambutnya dengan pelukan dan mengangkatnya tinggi-tinggi, sementara Junia bertingkah seolah-olah beruang lapar yang berusaha menggapai-gapai gadis kecilnya.
Kemeriahan pagi itu tidaklah lama. Sekadar untuk membangunkan kesadaran si gadis kecil dan memberi kesan permulaan hari yang bahagia. Junia menuangkan teh hangat di cangkir merah muda putrinya, lalu bergegas membuka jendela dan pintu. Dapur seketika dipenuhi gelombang-gelombang positif yang dibawa embun pagi di luar.
Cerita teh pagi keluarga Junia bagiku sudah seperti opera monoton yang tak pernah membuatku bosan. Baru beberapa detik jarum jam bergerak, warna-warni aura sudah silih berganti menghiasi. Cinta dalam cangkir-cangkir teh yang selalu tandas sebelum dingin membuatku kadang iri kepada satu set peralatan minum itu. Ceret dan tiga cangkir itu, kuyakin akan tetap ada selagi mereka tidak bocor karena retak termakan usia, dan Junia masih hidup.
Betapa bahagianya kami yang hidup dalam ketidakhidupan jika takdir kami selalu seperti ini; tidak ada tugas lain selain menerima kasih sayang para pemilik.
Dalam pancaran gelombang kebahagiaan energi tinggi, di dapur yang tidak pernah diabaikan.
Komentar
Posting Komentar