Rahasia Harisa 2: Sang Pencinta


Saat lampu-lampu sudah dipadamkan dan malam menua, itulah saat terbaik untukku mengenang hari-hariku. Meski, aku tidak selalu sempat melakukannya. Tidak jarang, aku terpikat oleh sunyi yang melenakan. 

Beberapa hari ini, banyak kegiatan di dapur seolah berhamburan dan tak habis-habis. Junia seperti memiliki baterai yang tak akan pernah mati. Dia terus menata, memasak, mencuci, menata, dan menata lagi. Benarlah dugaanku kalau rumah ini tidak hanya baru bagiku, tapi juga baginya.

Jika kuperhatikan baik-baik, dia seperti menari di antara tumpukan kegiatan. Bahkan di pagi hari yang lambat karena penghuni rumah belum penuh kesadarannya, dia sudah melesat-lesat seperti kembang api di langit tahun baru. Percikannya mengenai wajah-wajah mengantuk suami dan anaknya. Sarapan pagi mereka terdengar seperti orkestra yang megah diiringi cuitan burung-burung pagi di luar. 

Junia memasakkan menu yang sama setiap hari, cinta namanya. Dia mengolahnya dengan mahir. Bahkan uapnya tak sempat menyambangi rongga-ronggaku. Yah, selalu begitu jika pagi. Aku baru bisa menaungi masakannya jika itu jatah makan siang. Biasanya, pada saat itulah aku menakar kadar manis, asin, dan asam, tidak pernah pahit, tidak juga pedas.

Setiap piring ditakar dengan kadar cinta sesuai porsi masing-masing. Keluarga kecil Junia selalu menambah makan, dan tak pernah menyisakan apa pun baik di piring maupun gelas. Jika gadis kecil yang suka dikuncir dua itu merengek tidak habis, barulah Junia menambahkan cinta melalui cerita, nyanyian, juga gerakan tangan.

Ah, ya, bukan aku tidak sadar kalau lelaki tampan itu sudah beberapa kali melirikku dan seperti akan mengucap sesuatu pada Junia, tetapi tidak jadi. Aura suami Junia itu tampak cerah-cerah saja. Aku yakin dia tidak sedang ingin membuangku.

***

Junia, seperti ibunya, tidak pernah memperlakukan apa pun di sekitarnya dengan kasar. Karena itulah aku dan semua yang ada di sini sangat menyayanginya. Dia mengambil dengan sayang dan meletakkan dengan hati-hati. Tidak satu pun dari kami dilupakan. Hal-hal seperti ini, tidak banyak orang tahu, bahwa ini sungguh menguatkan dan membahagiakan. 

Tidak akan pernah kulupakan kejadian sore tadi. Saat suami Junia pulang dengan membawa hadiah, lalu menanyakan apakah aku bisa diganti dengan apa yang dibawanya. Junia terkejut, lebih-lebih lagi aku. Tapi, aku bisa mengerti niat baik lelaki yang selalu berbunga-bunga hatinya setiap kali melihat Junia-ku itu.

Aku memang terlihat layak diganti. Aku setuju saja asal jangan membuangku. Aku masih bisa berguna pada saatnya nanti. Tetapi, tidak seperti itu, ternyata, Junia melihatku.

Masih terngiang-ngiang ucapannya tadi. Aku tidak menyangka aku yang seperti ini bisa seberarti itu. 

"Aku tidak akan menggantinya, Sayang, seperti aku tidak akan pernah menggantimu, suamiku. Aku ingin, dapat terus melihat kesederhanaan di antara banyak hal yang kumiliki. Dia selalu mengingatkanku agar tetap kembali pada yang tidak mewah. Aku ingin agar kita sungkan kepadanya setiap kali kita memakan makanan yang terlalu berlebihan harga dan kemewahannya. Dia telah menjaga tata krama memasak ibuku sejak dulu, dan aku pun sama. Aku akan memperbakinya jika rusak, mencucinya jika kotor, dan menghiasnya agar tampak indah tapi tetap sederhana. Seperti itulah caraku mencintai semua milikku."

Terima kasih banyak, Junia.

Dapur, di malam yang dingin namun tetap terasa hangat.

Komentar

Postingan Populer