Qurban untuk Ibu



Seperti biasa, laut utara Probolinggo tidak berombak besar betapapun kuatnya angin berembus. Aku duduk di tepian karang pelabuhan Tanjung Tembaga, menanti senja merah meluncur menuju peraduan. Di ujung sana, garis cakrawala teguh menarik batas, menegaskan bahwa bumi ini begitu luas, seperti tak ada habisnya, namun tak semua bisa dijangkau penglihatan. Aku memejamkan mata sejenak, merasai tepukan halus angin laut. Saat aku membuka mata, dalam hitungan detik, bola merah besar itu perlahan tenggelam. 


Aku beranjak, lalu meraih sepeda dan mengayuhnya pulang, melewati daerah Mayangan, perkampungan para nelayan. Tas selempang lusuh menggantung riang, tergoyang-goyang setiap kali menyenggol paha. Di dalamnya, aku menyimpan seluruh tumpuan harapanku yang belum seberapa: empat lembar uang seratus ribuan.


Idul Adha tinggal seminggu lagi. Kuharap uang itu akan terkumpul lebih banyak dan cukup untuk membeli kambing qurban permintaan Ibu. Semoga aku bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih menghasilkan lagi beberapa hari ke depan. Aku ingin, sekali ini saja, membahagiakan wanita yang telah melahirkan dan berjuang membesarkanku.


***


"Ibu sudah makan?" tanyaku kepada Rima, adik perempuanku, saat tiba di rumah.


Gadis yang baru lulus SMP itu mengangguk. Tangannya sibuk mengaduk kopi pahit untukku. Kuambil handuk di sampiran tali rafia depan kamar mandi, lalu bergegas membersihkan diri sebelum kehabisan waktu salat.


Selesai mandi dan melaksanakan Salat Magrib, barulah aku menyesap kopi, lalu merebahkan diri di kamar sempit yang hanya beralaskan tikar dan sebuah kasur lantai. Ibu tidur dengan Rima di kamar yang sedikit lebih lebar. 


Lirih kudengar Ibu membaca surat Ya Sin yang dihapal di luar kepala karena begitu seringnya dibaca. Lagi pula, tidak ada Al-Qur'an dengan lembaran yang tidak lapuk di rumah ini. Pun mata Ibu sudah tak awas lagi. Surat itulah yang selalu dibaca Ibu setiap hari. Mungkin karena memang hanya itu surat panjang yang dihapal Ibu, atau mungkin hanya itu surat yang bisa mengirimkan rindu dan kenang Ibu terhadap Bapak.


Masih kuingat saat Bapak mengajariku mengaji dulu. Bacaan dan lagunya persis seperti  Ibu. Jika saja Bapak masih hidup, barang kali suaranyalah yang akan memenuhi ruang dengar kami. Barang kali juga, hidup kami akan sedikit lebih baik.


Hanya Rima yang tidak sempat merasakan kasih sayang Bapak. Dia masih dalam kandungan saat Bapak dipanggil Allah. Maka cintanya kepada Ibu dan kasih sayang Ibu kepadanya, bisa dibilang lebih di atas kami semua, anak-anaknya.


Ibu-lah yang mendidik kami agar kami tidak larut dalam duka cita dan nelangsa. Ibu juga yang mengajari kami bahwa hidup haruslah menerima. Hanya si bungsu itu yang mendengar sedu Ibu yang selalu disembunyikan dari kami. Setidaknya, dengan begitu, aku bisa lebih percaya bahwa Ibu memanglah manusia biasa, bukan bidadari yang menjelma perempuan keriput yang semakin kehilangan daya.


***


"Sudah dapat kambingnya, Dir?" Ibu beranjak dari tidurnya saat melihatku memasuki kamar.


Setiap hari, selalu itu yang Ibu tanyakan. Sudah setahun ini wanita tangguh itu mulai sakit-sakitan. Sepanjang hidupku, yang kutahu, Ibu belum pernah meminta apa pun kepada anak-anaknya. Tidak pernah wanita hebat itu mengambil keputusan yang demi kepentingannya sendiri. Baru satu bulan ini, dengan jelas Ibu berkata bahwa dia ingin berkurban. 


Pernah kudengar, orang-orang di ujung usia memiliki firasat dan bergelagat tak biasa. Aku khawatir, Ibu yang sudah tua ini, waktunya tidak lama lagi. Karena itulah, sekuat tenaga aku berusaha memenuhi harapan Ibu.


Wanita yang mulai pikun itu sudah tidak bisa banyak beraktivitas lagi seperti dulu. Usianya sudah terlalu lanjut untuk sekadar bisa berjalan sendiri ke masjid. Ibu memiliki enam anak, aku dan Rima adalah dua yang terakhir. Keempat anak Ibu lainnya sudah pergi merantau ke pulau seberang demi mengadu nasib. Hanya tinggal kami berdua, merawat Ibu dan memperjuangkan nasib kami sendiri di sini.


Betapa menyesal, kami, anak-anak Ibu. Di usia senjanya, wanita kecintaan kami itu belum pernah bisa kami hidupi dengan  layak. Semua anak-anak Ibu yang merantau sedang dalam masa sulit, terutama di tahun-tahun terakhir. Aku bisa lulus SMA saja sudah syukur sekali. Untuk saat ini, aku hanya ingin membahagiakan Ibu. Itu saja.


***


Hari Raya menjelang. Takbir bertalu sepanjang malam. Aku tidak bisa tidur. Tangan dan kakiku gemetar menanti hari esok. Untuk pertama kalinya sepanjang hidup, aku membohongi Ibu.


"Maksud Abang gimana? Ke mana uangnya, Bang? Bagaimana kita harus memberitahu Ibu?" Rima berteriak tertahan. Wajahnya terus saja membasah, tak peduli berapa kali kain lengannya menyeka.  Kami sedang duduk di gardu bambu belakang rumah diterangi obor sisa anak-anak takbiran. Aku baru saja menyampaikan kabar yang membuat hujan di wajahnya.


"Bilang saja kambingnya sudah kita setorkan ke panitia qurban! Toh, Ibu tidak akan bisa menengoknya saat penyembelihan besok." 


Tidak kusangka aku bisa selicik ini. Rima terang-terangan menatapku dengan tatapan mencemooh. Mulutnya mengatup rapat. Terdengar gigi-giginya beradu geram. 


Bodoh! Bodoh sekali aku!


Waktu itu, sepulang dari bekerja sebagai buruh angkut di Pasar Pelabuhan, aku melihat seorang pemulung sedang memegangi dadanya di pinggir jalan. Dia terlihat kesakitan, tangannya melambai-lambai meminta pertolongan tanpa bisa berteriak. Karena tak tega, aku terpontal-pontal memboncengnya  ke rumah sakit tanpa berpikir panjang. 


Setelah periksa dan menebus obat, aku langsung mengantarnya pulang. Dalam perjalanan, lelaki tua itu hanya diam saja kecuali jika ditanya. Mungkin sakit di dadanya masih terasa. 


Begitu kami tiba di tempat tinggalnya, kudapati rumahnya hanyalah papan-papan kayu lapuk yang disandarkan dan dipaku sekadarnya. Seorang wanita tua menyambut kami dengan wajah pias. Dia mempersilakanku masuk dan minum segelas air putih yang disuguhkan tangan keriputnya. Diam-diam aku menyeka sudut mata yang mengembun. Aku pamit dengan meninggalkan sedikit uang untuk mereka bertahan beberapa hari. 


Saat hampir tiba di rumah itulah aku baru menyadari, betapa mudahnya aku mengasihani dan memberi. Uang untuk membeli kambing hasil menabung dan patungan dengan semua saudara hanya tinggal setengah. Tidak cukup untuk membeli seekor kambing paling murah sekalipun. 


***


Aku dan Rima baru pulang dari masjid, subuh itu. Takbir menggema memanggil jemaah Salat Idul Adha. Kami telah menyiapkan Ibu dengan pakaian terbaiknya.


"Bagaimana kambingnya, Nak?" Ibu bertanya dengan lembut.


Aku tertegun mendengar pertanyaan Ibu. "Eh ... a-anu, Bu." Aku kehabisan kata.


"Terima kasih, ya, Nak. Ibu bangga padamu," timpal Ibu tanpa menunggu jawabanku. 


Rima menatapku datar. Tampaknya sudah tidak semarah kemarin.


"I-iya, Bu." Hanya itu yang bisa kukatakan. Aku tidak bisa berbohong lebih banyak lagi.


Ibu memeluk, lalu mencium keningku. "Kamu masih seperti anak Ibu yang kecil dulu."


Aku tersenyum pahit. Tidak, Ibu. Aku sudah membohongimu.


Pukul setengah enam, kami bersiap pergi untuk salat Idul Adha. Rima bergegas lebih dulu, menunggu di sana untuk menata sajadah dan bantu-bantu. Sementara aku masih menutup pintu dan jendela. 


"Berangkat, Bang. Assalamualaikum," pamitnya, kali ini berimbuh senyum tipis. Aku sedikit lega melihatnya. Mungkin dia sudah memaafkanku. 


Aku menggendong Ibu di punggung, membawanya menuju masjid yang hanya tiga ratus meteran dari rumah. Satu dua orang yang berpapasan menyapa, menanyakan kabar Ibu. Wanita di punggungku terdengar senang menjawab. Ini kesempatan yang jarang bagi Ibu, dapat berbicara dengan orang-orang yang jarang dijumpainya. Tidak lama, tahu-tahu jalan sudah mulai sepi. Mungkin kami yang paling belakangan datang. 


"Nak, salam buat Pak Marwan, ya, kalau besok-besok bertemu dia lagi."


Langkahku terhenti. Pak Marwan? Lelaki pemulung itu? Dari mana Ibu tahu tentang dia? 


Tidak mungkin Ibu bertemu laki-laki itu. Atau jangan-jangan ....


Astaghfirullah! Apakah kebiasaan ngelindur di masa kecil dulu kumat lagi semalam? Kebiasaan yang hanya muncul jika aku sakit atau cemas berlebihan. Apakah Ibu ....


***


Aku terbangun dengan peluh bercucuran. Seharusnya ini malam yang dingin oleh udara sisa hujan. Tangan dan kakiku masih gemetar. Dada rasanya penuh gemuruh sebab mimpi barusan. Di malam keempat puluh kepergian Ibu menghadap Tuhan, kulihat Ibu tersenyum menunggang kambing paling besar yang pernah kulihat sepanjang hidup. Kambing terbesar, tergagah, tak terbeli dan tak pernah ter-qurban-kan.

Komentar

Postingan Populer