Pikun



Seorang wanita paruh baya mondar-mandir di halaman belakang rumahnya. Bu Rukmi menyusuri setiap jengkal tanah tempatnya menjemur pakaian hari ini. Dia tahu itu percuma. Siapa pun akan dapat melihat bahwa tempat itu kosong melompong, tidak ada sehelai pun kain tersampir di tali jemuran.


Seperti orang linglung, wanita itu masuk ke dalam rumah. Dia bertanya sekali lagi kepada anak dan suaminya tentang apa saja yang dilakukannya seharian tadi. Wajah yang sudah mulai keriput itu bertambah beberapa kerutan di dahi. Kedua alisnya bertautan. Dia tampak tidak yakin dengan ucapan keluarganya sendiri. 


"Aku sama Ayah baru datang dari mengurus pendaftaran sekolah, Bu. Mungkin Ibu sudah menyetrika dan memasukkannya ke lemari," ucap anak lelakinya. 


Sore menjelang. Bu Rukmi duduk termangu-mangu di kursi panjang belakang rumah.


"Apa iya aku sudah pikun?" gumamnya.


Wajahnya mendadak cerah saat melihat anak tetangganya lewat di jalan terabasan menuju musalla.


"Ngajar ngaji, Nduk?" tanyanya seraya menghampiri.


"Nggeh, Bulek Rukmi."


"Nduk, tahu jemuran saya ndak? Masa ilang, ya?" 


Gadis itu membelalak. "Hi-hilang, Bulek?"


"Sepertinya begitu." Mata wanita itu menerawang.


Suara ponsel berdering. Gadis itu menggeser layar dan membaca pesan. "Maaf, ya, Bulek Rukmi. Sahla pergi dulu, ini sudah ditunggu anak-anak ngaji." 


***


"Kamu yakin ndak salah lihat, Hil?" 


"Iya, beneran, Bulek. Mau tak kejar sudah hilang. Nanti saya carikan. Kayaknya anak desa sebelah," jawab pemuda yang wajahnya mirip dengan Sahla, sang guru ngaji. 


Wanita itu mengangguk-angguk. Air mukanya sedikit cerah. "Berarti kan aku belum pikun, ya, le?" tanyanya disusul tawa kecil.


Pemuda itu pun segera pamit. "Ibuk saya ndak ada temannya di rumah." Dia beralasaan.


Baru beberapa menit pemuda itu pergi, saat wanita itu melenggang ke belakang sambil membawa sapu lidi, gadis yang tadi bertemu dengannya mendatangi dengan berurai air mata.


"Maafin Sahla, Bulek Rukmi. Maaf atas kelancangan Sahla." 


"Lho, ada apa, Nduk, kenapa?"


"B-Baju Bulek, Sahla yang ambil." Gadis itu menunduk dalam.


"Baju?"


"Iya, yang tadi dijemur, yang sedang Bulek cari. Baju terusan warna putih yang ada lapisan brokat di depannya. Cari baju itu, 'kan? Tadi Sahla pinjam sebentar buat acara di sekolah. Baju sahla gosong kena setrika soalnya," jelasnya sambil mengelap basah di pipi.


"Tapi, Nduk, yang hilang semuanya. Semua yang tadi dijemur. Bukan cuman satu saja. Lha wong tadi adikmu bilang kalau dia lihat ada orang bawa karung penuh buntalan dari belakang sini." 


***


Azan Magrib berkumandang. Suami Bu Rukmi dan anaknya berangkat ke musalla, sementara wanita itu diam di rumah karena sedang libur salat. Dia mematikan lampu rumah, lalu berjalan mengendap-endap dan mengintip dari balik jendela karena mendengar suara langkah kaki mendekati rumahnya.


Seorang pemuda bersarung berjalan dengan langkah hati-hati menuju teras rumah. Bu Rukmi tersenyum melihat kedatangannya. Wanita itu bersyukur cahaya bulan malam ini cukup terang sehingga dia bisa melihat wajah pemuda itu.


Sebuah karung besar digulingkan di teras. Dari jauh, terlihat seorang gadis seperti sedang memantau keadaan, lalu berjalan cepat menghampiri pemuda tadi.


"Sudah, Dek? Ayo cepat! Keburu orang rumah ini pulang dari musalla." 


"Tapi, Mbak, baju putihnya belum! Apa kita ganti pakai uang saja, ya?"


Gadis berhijab itu menunduk. "Uang dari mana, Dek? Lagian kamu juga, ngapain ngambil jemuran Bulek Rukmi ndak bilang-bilang? Mbak kan jadi salah ngomong tadi."


"Ya gimana, Mbak. Aku lihat Ibuk ambil baju itu, ya sementara kusimpan semua, siapa tahu Bulek Rukmi lupa kalau punya jemuran. Ternyata dia ingat dan bingung nyariin."


"Ngawur kamu! Nggak gitu caranya. Kan bisa aja Mbak yang ngaku ambil."


"Tak pikir Mbak ndak tahu soal ini. Lagian masa guru ngaji nyuri baju."


Bu Rukmi menyimak percakapan itu. Dia berpindah pelan ke belakang pintu agar suara kedua anak tetangganya terdengar lebih jelas.


Terdengar Sahla sesenggukan. Bu Rukmi mencoba mengintip lagi dari jendela terdekat.


"Dari pada Ibuk dianggap orang kurang waras, Dek. Lebih baik Mbak saja yang dihina. Orang muda mungkin masih banyak kesempatan untuk memperbaiki diri."


***


Malam ini Bu Rukmi tidak dapat tidur dengan nyenyak. Meski jemurannya telah ditemukan, dia tetap saja tidak tenang. Pikirannya berkelana saat dia mengintip hingga ke jendela rumah tetangganya. 


"Buk, sedang apa?" Suara Sahla bertanya kepada Ibunya. 


"Bagus, ya, Nduk? Ternyata baju akad nikah Ibuk dulu masih muat. Bapakmu pasti senang lihat Ibuk pakai ini." Dari balik jendela, Bu Rukmi menyeka air mata yang jatuh tanpa izin. 


"Iya, Buk. Sini, Sahla simpan dulu biar ndak rusak."


"Ibu mau tidur pakai ini. Nanti katanya Bapak mau datang." Lalu sepi. Hanya suara jangkrik yang memenuhi pendengaran. Bu Rukmi pun merapatkan telinga ke kaca jendela yang tertutup gorden. Nyala terang lampu di dalam mampu menyamarkan bayangan dirinya yang menguping.


"E-ehh ... Buk, Sahil setrikakan dulu saja, ya. Nanti kalau Bapak sudah datang, baru Ibuk pakai. Biar Mbak Sahla pijitin Ibuk sambil nunggu bajunya selesai disetrika."


Hanya sampai di situ wanita itu menguping. Akhirnya dia tahu, kenapa Janda sebelah rumahnya itu tidak pernah keluar rumah semenjak suaminya meninggal setahun yang lalu.


Kini dalam kamarnya yang dingin ber-AC, dia merenung. Diraihnya ponsel di nakas, lalu jarinya bergerak lincah.


"Sahil, Alhamdulillah, tadi sepulang dari musalla tiba-tiba ada karung di teras. Isinya jemuran Bulek yang hilang itu. Semua lengkap dan utuh. Pasti kamu, ya, yang nyariin sampai ketemu. Besok ke sini, ada hadiah buat kamu. Bulek sampai lupa baru ngabari sekarang. Memang Bulek sudah tua, sudah mulai pikun. Terima kasih, ya." Terkirim.


_selesai_

Komentar

Postingan Populer