Pertemuan dengan Mantan
Aku melihatnya di barisan panjang antrean kasir swalayan. Betapa dia masih sangat kubutuhkan sejak dulu hingga kini. Semua kenangan seolah berputar ulang di ingatan. Masa-masa yang berat untuk dilupakan. Entah kapan aku akan bisa merelakannya. Di situasi yang sedang tidak mudah ini, dapat bertemu dengannya tak ubahnya menemukan segelas air dingin di tengah panasnya gurun pasir.
Dia masih seperti dulu. Garis wajah, binar mata, dan lengkung senyumnya, semua tidak berubah meski kami telah berpisah empat tahun lamanya. Seandainya dia tahu betapa berat rindu yang kutanggung selama ini. Mataku memanas, aku tidak ingin menangis di sini, di dekat dia yang selama ini kucari.
Aku harus menemuinya, menyembunyikan perasaan yang sebenarnya dengan menjadi anggun agar dia kembali terpesona. Kuharap tatapan mataku dapat kembali menghipnotisnya seperti dulu. Dia tidak boleh pergi lagi untuk kemudian meninggalkan luka.
Kuletakkan kembali popok kemasan isi 30 yang sedang promo, lalu mengambil ponsel dan menghubungi suami.
"Mas, bisa jagaiin si kecil lebih lama? Ada hal darurat mendadak. Tolong, ya!" Aku memohon.
Tanpa banyak kata, lelaki itu meng-iya-kan mauku. Biarlah dia membatalkan janji temu dengan temannya. Sekali ini saja, Mas, biarkan aku menemui dia dari masa lalu.
Di bagian paling pojok swalayan, berlindung di balik deretan rak aku membenahi pakaian dan riasan wajahku. Aku harus tampil sempurna. Setelah sekian lama tak berjumpa, aku tidak ingin dia menganggapku berubah, baik penampilan maupun perasaan.
Sungguh aku malu dan tidak percaya diri. Akan tetapi, ini kesempatan langka, tidak akan kubiarkan berlalu begitu saja. Aku telah mencarinya ke mana-mana dan tak sekalipun dapat menemukannya. Dengan menguatkan diri, kumantapkan langkah menuju dia yang baru saja keluar.
"Reno," sapaku dari belakang. Lelaki itu sedang sibuk dengan ponselnya.
Dia tak kunjung berbalik. Apa suaraku terlalu kecil? Ataukah dia tidak merasa dipanggil? Atau justru sengaja mengabaikan?
"Moreno, ini aku, Lia!" tekanku, berharap dia menoleh dan memberikan senyum yang dulu pernah menawan hatiku.
Aroma parfumnya tercium dari tempatku berdiri, dua meter di belakangnya. Lelaki bertubuh tinggi itu akhirnya berbalik. Ada bayangan diriku di matanya.
Tidak ada senyum apalagi rayuan. Lelaki rupawan itu hanya tertegun melihatku, lalu memalingkan muka. Sebelum dia melangkah meninggalkanku, kuraih lengan kirinya, mencegahnya pergi.
"Beri aku waktu, sebentar saja. Aku janji setelah ini kau boleh mengabaikanku lagi seperti waktu itu. Aku tak akan mencari atau menunggumu lagi," ucapku lirih.
"Ren, andai kau tahu betapa pertemuan ini berarti bagiku." Aku mengungkapkan isi hati. Harus sekarang atau tidak akan pernah selamanya.
Kuraih tangan kanannya yang mengambang di udara dengan ponsel dalam genggaman. Aku yakin hatinya masih untukku. Jelas sekali ada namaku di hatinya yang tak pernah bisa mengingkari. Dia terpaku, tak sedetik pun berpaling dari wajahku.
Kami beradu pandang lama. Masa bodoh dengan tatapan risih orang-orang di parkiran. Semilir angin mengibarkan rambut panjang yang kubiarkan terurai. Dia masih mencintaiku, aku tahu, terlihat jelas dari matanya yang berkaca-kaca dan tangannya yang gemetar. Namun, sisi lain dari dirinya membuatnya harus meninggalkanku.
"Aku merindukanmu. Kau telah membawa pergi milikku yang berharga dan membiarkanku terus berharap agar kau kembali," tegasku menahan emosi.
"Tidakkah Kau merindukanku seperti aku merindukanmu? Harus berapa lama lagi aku menunggu?" Aku nyaris berteriak.
Beberapa orang yang melihat terdengar terisak. Mungkin terharu dengan pernyataan yang baru saja kuucapkan.
"Aku tidak percaya jika Kau telah melupakanku. Janjimu, Reno, janji itulah yang senantiasa membuatku terus mencarimu." Kupalingkan wajah darinya, lalu memasukkan ponsel ke dalam tas agar dia tak menyadari perubahan raut wajahku.
Teringat akan keluarga kecilku di rumah. Mereka pasti sedang menungguku.
"Baiklah, biar kuakhiri perasaan yang hanya menyiksaku sendiri ini. Setidaknya aku sudah bertemu denganmu, walau untuk terakhir kali. Setelah ini, jangan pernah mencariku untuk alasan apa pun."
"Aku pergi. Terima kasih atas waktumu yang berharga," pungkasku tepat saat setetes air mata luruh di wajahnya.
Segera aku menstarter motor, lalu pergi tanpa memedulikan teriakannya memanggilku.
Aku bahagia berhasil melalui ini. Menutup seluruh kebencian yang selama ini kupendam dengan senyum kemenangan. Sepeda motor matic biruku kulajukan dengan kecepatan tinggi, lalu perlahan melipir saat kutemukan gerai ponsel yang melayani jual beli ponsel bekas. Ternyata ponsel buaya darat matre itu mahal juga. Tiga juta rupiah berhasil kukantongi. Aku membuka catatan hutangnya kepadaku dulu, masih kurang seratus tujuh puluh ribu, biarlah, kuikhlaskan saja. Rasanya tak tega melihatnya menangis dan berteriak seperti tadi.
End
Komentar
Posting Komentar