Perang Bharatayudha

Pagi itu, saat saya sedang bersiap untuk keluar, si ayah nyeletuk ke anaknya.

"Alif, lihat itu, Ibu sedang menggambar."

Saya melirik dari depan cermin, lalu beralih memperhatikan pensil alis di tangan. Pensil itu sudah sangat kecil dan ujungnya perlu diraut. Tanpa menghiraukan ucapan Suami, saya bergegas merautnya di luar kamar.

"Owalah, sudah nggak bisa diraut," gerutu saya, kesal. 

Pensil itu sudah sangat kecil sehingga tidak bisa diputar di perautnya.

"Makanya, Ayah, belikan!" Alif yang waktu itu masih tiga tahunan, memprovokasi. 

Telepati berhasil, rupanya.

"O, begitu." Si ayah tertawa sambil menghampiri.

"Sudah gak bisa ini!" Saya mengeluh lagi.

"Mau dipakai sekarang?" tanyanya polos. 

Saya tidak menyahut. Segera saya mengambil kerudung dan langsung memakainya tanpa melanjutkan berdandan. Sebenarnya cuma mau beli lauk di tetangga, sih.  

"Ini, bisa!" Nah, ini baru Suami saya. Dia berhasil merautkan pensil alis tadi.

"Eh, patah." Ayahnya Alif itu nyengir.

Saya diam melihatnya. Dia juga diam. Sebelum kemudian terjadi pertempuran, dan bukan Krishna yang ber-tiwikrama.

Komentar

Postingan Populer