Pencuri Kecil



"Ngaku kamu!" teriak seorang remaja pada gadis lain yang lebih kecil darinya. "Di sini nggak ada yang suka nyuri selain kamu." 
 
Gadis kecil yang tertunduk di depannya itu masih duduk di kelas lima SD. Qifa, namanya.

"Sudah dibilang, bukan aku, kok!" elaknya. 

"Alah, ngaku saja! Semua sudah tahu siapa kamu," kata gadis SMA lainnya.

"Ini bukan pertama kalinya, Qifa. Dan selalu terbukti kamu pencurinya!" 

"Ayo, Qifa, buruan, ngaku saja. Keburu Bu Hesti datang dan dia yang akan mengintrogasi kamu." 

Ada sekitar lima puluhan santri panti berkumpul di sana. Dari yang paling muda, sepantaran Qifa, sampai yang duduk di kelas akhir bangku SMA. Mereka sedang berusaha menyelesaikan masalah yang terus menerus berulang di asrama. Ikut campur pengurus sudah bukan lagi solusi bagi mereka. Mengingat si pelaku tak pernah jera. Sanksi sosial tampaknya akan berlaku pada pencuri kecil langganan pesantren sekaligus panti asuhan itu.

***

“Hai, Risma, kamu mau beli apa?” sapa Qifa pada seorang temannya saat bertemu di sebuah toko,

Namun yang ditanya tak menggubris. Gadis yang dipanggil Risma itu mengernyit jijik melihat teman yang menyapanya.

Mendapat respon yang tak menyenangkan, Qifa diam saja. Ia sudah terbiasa menerima perlakuan seperti itu. 

Sejak dulu, sebelum ia terbiasa dengan kenakalannya, memang tak pernah ada yang mau berteman dengannya. Ia masih terlalu kecil untuk memahami apa yang terjadi. Bahwa dunia memang sering kali begitu, seolah hanya milik mereka yang berwajah cantik. Sementara dirinya, hanya gadis hitam, paling gelap warna kulitnya di antara teman-temannya.

Hanya Bu Hesti yang mampu memahaminya. Tak pernah sekali pun kepala panti itu marah atau membentaknya atas semua kenakalan-kenakalannya. Hal itu membuat banyak anak di panti semakin geram dan tak sudi memedulikannya.

Saat waktunya makan, ketika semua anak makan berdampingan, hanya ia yang duduk seorang diri tanpa teman. Di sekolah pun tak jauh berbeda. Ia duduk di barisan paling belakang, tanpa teman sebangku. Sering ia berusaha berbuat dan bersikap baik kepada semua orang, tapi tak ditanggapi. Dirinya ada, namun seperti tak ada.

***

Sore itu, saat ia sedang duduk sendiri di bawah pohon ceri yang tumbuh di halaman asrama, seorang wanita menghampiri. 

“Nak, kamu yang namanya Qifa?” tanya wanita paruh baya itu.

Gadis yang ditanya hanya menatap lama. 

“Siapa wanita ini?” pikirnya.

Wina, nama wanita itu, menelisik setiap inchi dari gadis kecil di depannya. Perlahan, muncul genangan kaca di kedua matanya.

Didapatinya gadis kecil itu sangat kurus, kumuh, seperti tak terurus. Persis seperti yang digambarkan oleh Bu Hesti kepadanya beberapa waktu yang lalu saat ia pertama kali datang.

Pada tangan dan kakinya, terdapat bercak bekas gatal-gatal yang telah menghitam. Rambutnya, yang tak tertutup kerudung, terlihat kusut tak terawat.

Bibir gadis itu melengkungkan senyum untuknya. Namun, matanya berteriak memohon empati. 

Masih terekam jelas percakapannya dengan kepala panti waktu itu.

“Kami mohon maaf tidak dapat merawat gadis yang ternyata putri ibu itu dengan cukup baik,” ucap Bu Hesti. "Banyak hal sudah kami usahakan agar Qifa mampu mandiri, merawat dirinya sendiri. Semua sudah kami sediakan, hanya saja, ia enggan. Sering kali kami terpaksa turun tangan memandikannya meski usianya sudah cukup dewasa untuk belajar mandiri. Tapi, memang, semua butuh waktu. Kami mengerti ia banyak tertekan karena sedikit berbeda dari teman-temannya.”

Wina, wanita itu hanya tertunduk. Semua ini tentu salahnya, telah meninggalkan putri kecilnya begitu lama. Tak sedikit pun ia menuntut atau menyalahkan para pengurus panti. Justru ia berterima kasih banyak atas jasa para pengurus panti.

Ini adalah bagian dari langkah pertamanya berhijrah dari kehidupannya yang kelam. Hidayah itu menyapanya di bulan yang penuh berkah, beberapa bulan yang lalu. Sungguh Allah Maha pengasih, masih memberinya kesempatan kembali pada jalan yang terang.

Hal pertama yang ia ingat adalah putri kecilnya, lentera hatinya. Sekian purnama ia menguatkan hati untuk menemui  pelita kecilnya, yang baru kini ia rasakan bahwa ia sangat merindukannya.

Setelah memantaskan diri, memakai hijab, dan menutup auratnya, ia berjanji akan menjadi ibu yang baik bagi anaknnya, menebus kesalahanannya.

“Seperti apa keseharian putri saya, Bu?” tanya wanita berhijab panjang itu hati-hati.

Bu Hesti tersenyum. Ia telah menjelaskan kondisi fisik anak asuhannya itu tadi. Namun, tampaknya, wanita di depannya ingin tahu lebih banyak lagi.

“Qifa anak yang baik, Bu, sebenarnya. Hanya saja, setahun terakhir ini ia beberapa kali ketahuan mengambil uang temannya. Kami berusaha mengerti apa yang sedang terjadi dalam dirinya. Ia memang sering dijauhi karena fisiknya, karena keabaiannya pada dirinya sendiri juga. Ia juga hampir tidak pernah jajan. Suatu hari, saya bertanya padanya kenapa ia sering mengambil uang teman-temannya, sementara ia sudah punya uang saku sendiri yang bahkan tak pernah ia gunakan. Tapi, ia hanya menjawab bahwa ia sedang mengumpulkan uang untuk membeli sesuatu yang sangat ia inginkan. Saat kami tanya apa, ia hanya diam saja, tak menjawab.”

Suasana mendadak canggung sampai kepala panti itu kembali bersuara.

“Tapi, ibu tidak perlu khawatir. Kami percaya Qifa anak yang baik. Ia sekarang sudah mulai memahami dan sudah tidak mengulanginya lagi. Dengan hadirnya ibu di sisinya, saya yakin akan lebih mudah bagi dirinya untuk berubah menjadi lebih baik lagi dan mencintai dirinya sendiri.” 

Wina tersadar dari lamunannya. Sementara gadis kecil di depannya menatap tak mengerti.

Kini, air matanya telah menganak sungai. Dielusnya perlahan kepala dan bahu kesayangan kecilnya. 

“Qifa, ini ibu. Maafkan ibu, ya, Nak, baru bisa menemuimu sekarang,” lirih wanita yang kini memeluk gadis kecilnya.

Diciuminya kedua pipi putri semata wayangnya, mengelus rambutnya, mengusap bahunya, lalu menggenggam erat tangan kecil itu dan menciuminya.

“Ibu sayang Qifa. Ibu akan selalu bersama Qifa.”

Kembali tangis itu berurai dalam pelukan.

Gadis kecil itu tergugu, hatinya menghangat diperlakukan sedemikian rupa. Dirinya ternyata ... punya ibu. 

Ia tak akan sendirian lagi. Ia merasa istimewa dan berharga. 

“Aku akan bahagia, ada ibu di sini,” teriaknya dalam hati.

“Tuhan, terima kasih telah menerima uang yang kumasukkan di kotak amal di sekolah. Aku telah membeli ibu, dan Kau memberikannya kepadaku,” gumamnya lirih.

Selesai. 

Komentar

Postingan Populer