Panas
"Ayah, Alif suka teh panas, tapi minumnya nanti, tunggu dingin dulu," ucap anak suami saya di tengah makan malam.
Saya menyesal kenapa tidak langsung menyingkir tadi, padahal sudah selesai duluan.
"Oh, ya?" respon si ayah.
Tak lihatin mereka, anak dan ayah itu.
"Ayah juga suka nasi goreng yang paaanas sekali, yang baru mateng itu. Besok paginya baru ayah makan," imbuh lelaki besar itu.
Masih saya pantau.
Bismillah, tahan, jangan nyinyir.
"Sama, ya, ayah, ya," seru si anak.
Mereka berbicara begitu itu dengan serius. Seperti inikah gaya jagongan para lelaki di keluarga saya? Bukan main!
Saya menyipitkan mata, menatap tajam si lelaki besar. Bagaimanapun saya tahu dia dalang semua ini.
Mereka masih diam dan takzim makan, mengabaikan saya yang geregetan.
Tidak ada yang merasa bersalahkah?
Tidak tahan, akhirnya saya nyinyir juga, "Ini nambah lima aja lagi yang kayak gini, bisa bikin sekte, Mas."
Komentar
Posting Komentar