Pala
Perjalanan memasak saya memang penuh liku. Sekali lagi, saya tersesat oleh keabsurdan sendiri.
Pagi itu, entah dapat wangsit dari mana, saya ingin memasak memakai bumbu pala. Seingat saya, seumur hidup pernah dua kali melihat pala, yakni saat seorang saudara memasak sup untuk saya, dan saat memperhatikan sebungkus merica utuh seribuan yang 'katanya' ada kepingan pala di dalamnya.
Dengan penuh percaya diri, saya berangkat ke pasar terdekat.
"Mbak, beli pala," ucap saya sok iyes. Berlagak menjadi ibu-ibu mastah dapur.
"Berapa?"
Aduh, mati kutu. Biasa orang beli berapa, ya?
"Eee ... anu ... harganya berapaan, memangnya?"
"Mbak mau seperempat?"
Saya diam. Bingung mau pencitraan gimana lagi.
"Kalo yang di tangan Mbak itu, berapa?" Yang penting nyahut, ya, kan?
"Dua ini dua ribu." Di tangan si embak ada dua buah entah apa itu kok lonjong seperti juwet tapi mengkilap. Saya sendiri gak yakin itu pala.
"Oh, ya ... itu ... segitu aja," jawab saya. Untung sepi.
Setibanya di rumah, saya bingung itu yang tadi katanya pala mau diapain. Yang pernah saya lihat gak gitu kayaknya.
Berbekal feeling dan gengsi nanya ke Suami, benda meragukan itu saya geprek pakai ulekan.
Tidak butuh waktu lama, saya menemukan menu percobaan yang tepat. Saya yakin tidak akan fatal. Siang itu juga, saya membuat mie pipih goreng.
***
"Ini dikasih apa ini mie-nya? Kok, ada keras-kerasnya?" tanya suami sesaat setelah saya pamerin maha karya terbaik saya hari itu.
"Tapi rasanya enak, kan?" Ini senyum sudah tersimpul-simpul di wajah.
"Iya, enak. Tapi bahaya. Ini serpihan apa? Keras sekali ndak bisa dimakan? Ini, sih, gak bisa dicerna."
"Itu pala, Mas. Susah nguleknya tadi, gak bisa digerus."
Akhirnya, Suami sidak ke dapur, mencari tahu bumbu mematikan apa yang diolah oleh istrinya.
Sejak itu, saya jadi tahu, bahwa ternyata bagian pala yang dimasak itu dalamnya, bukan kulit kerasnya.
Komentar
Posting Komentar