Paha Ayam yang Dibuang

Fahmi, bocah berusia empat tahun, tersenyum semringah dengan kedua tangannya mendekap sebungkus ayam goreng krispi yang baru saja dibeli. Ia didudukkan di depan ayahnya yang sedang menyetir. Di belakang, sang ibu membonceng dengan posisi duduk menyamping. Kelurga kecil itu tampak bahagia setelah pulang jalan-jalan sore.


Beberapa ibu rumah tangga berkumpul di sebuah teras seorang penjual gorengan sambil mengawasi anak-anak mereka bermain.


Sudah menjadi kebiasaan, setiap Ramadan tiba, mereka akan beramai-ramai membeli gorengan disana. Kabarnya, di tempat itu rasa gorengannya sangat enak, juga lengkap variannya. Mungkin karena ada sambal petisnya yang lezat dan jadi rebutan.


Keluarga si kecil Fahmi melewati kerumunan tersebut. Ayah dan Ibu Fahmi menyapa dengan senyuman dan anggukan kepala, sementara si kecil Fahmi tak peduli. Anak kecil itu nyaris melompat-lompat kalau tidak dipegangi erat-erat oleh ayahnya. 


Kerumunan itu pun membalas dengan ramah. Kepada pengendara sepeda motor butut yang melaju pelan itu, mereka berbasa-basi, "Dari mana, Fahmi?"


Ibu Fahmi menjawab dengan diiringi senyum. "Jalan-jalan, Bu!'


Bersamaan dengan itu, Fahmi berteriak bangga, "Beli ayam krispi, Bude!"


Semua tertawa melihat antusiasme balita itu. Sebagai penutup, Fahmi melambaikan tangan pada ibu-ibu yang sedang mengantri gorengan.


"Senang, ya, lihat keluarga itu. Wajahnya cerah-cerah, bikin adem," celetuk seorang nenek yang sudah selesai mengantri.


"Iya, saya juga suka. Bahasanya sopan, anaknya lucu juga. Mereka selalu terlihat bahagia walau pun tinggal di rumah anyaman bambu," sahut seorang wanita paruh baya. Ia tampak santai karena tak ikut mengantri, hanya mengawasi anak kecilnya bermain.


Seorang wanita yang mengenakan daster tanpa lengan, dengan kerudung seadanya, ikut menimpali, "Gimana nggak bahagia, makannya enak terus. Ayam krispi lah, ayam kecap lah, ayam panggang lah. Lupa kali kalau rumahnya sudah kayak mau roboh." Ia tampak kesal mengingat cerita yang ia dengar dari anaknya yang satu kelas dengan Fahmi di TK. 


"Masa sih? Yang bener? Ya ampun, kok gitu sih mereka,"


"Iya juga sih, ya. Miskin kok foya-foya. Mending uangnya disisihkan buat bangun rumahnya. Itu sih namanya pemborosan!"


"Lha iya, sampai baju saja lupa beli. Asal bisa makan enak, gitu kali, ya."


"Ya udah, sih, Buibu, terserah mereka, duit nggak dapat ngutang ke kita aja kok repot."


"Hahaha. Iya juga, ya. Terserah deh, asal nggak ngutang ke kita pas butuh nanti," pungkas seorang ibu muda diiringi suara gemerincing gelang emasnya saat memilah gorengan.


Segera kerumunan itu bubar saat hari mulai senja, kembali ke rumah masing-masing dengan pemikiran berbeda-beda atas pembicaraan tadi. 


Sementara keluarga kecil yang dibicarakan, sibuk menikmati kebahagiaan mereka sendiri.


Paginya, pukul setengah enam, para ibu rumah tangga sudah berlalu lalang pulang dan pergi ke pasar. Di bulan Ramadan, kesiangan sedikit saja, mereka bisa kehabisan. 


Dua orang ibu muda, satu dengan rentengan emas di kedua tangan, satu lagi mengenakan daster tanpa lengan favoritnya, berjalan beriringan menuju pasar. Sepanjang jalan, mereka sibuk membicarakan apa pun yang bisa dibicarakan dan dibumbui.


Mereka melewati rumah anyaman bambu yang sejak kemarin gencar mereka bicarakan. Di belakang rumah, Ibu Fahmi terlihat sedang membuang sampah sisa makanan, di antaranya ada sepotong paha ayam. Tentu saja, hal tersebut tak luput dari pengamatan duo sahabat yang selalu solid itu.


"Tuh, gaya banget ayam dibuang-buang. Saya yang nggak kaya-kaya amat aja eman!" cibir wanita berdaster. Mulutnya mencap-mencep tanda tak suka.


"Apalagi saya. Gorengan jatuh aja saya pungut. Padahal nih ya, gelang-gelang mahal saya ini nggak kurang kalau buat beli sekarung ayam goreng, mah," timpal sahabatnya, wanita dengan gemerincing gelang.


Sementara yang dibicarakan tak pernah tahu seperti apa penilaian orang-orang atas mereka. Keluarga kecil itu memang jarang keluar kecuali kalau ada acara kampung. Juga tak pernah ikut nimbrung baik itu di warung kopi mau pun kedai gorengan yang selalu ramai.


***


"Mbak Yumna, ini ada sedikit gorengan sisa tadi sore. Mbak mau tidak?" tawar penjual gorengan itu pada ibu Fahmi. Sengaja ia mengantar sendiri ke sana di larut malam.


Keduanya sama-sama seorang ibu dari balita kecil yang berteman cukup baik. 


Muna, penjual gorengan itu banyak tahu tentang kehidupan keluarga Fahmi itu sejak seorang tetangga, Asma, mengadu padanya meminta bantuan. 


Asma tak tega mendengar rengekan Fahmi kecil yang kelaparan. Demi menjaga muruah ayah dan ibu Fahmi, dia berencana agar orang lain saja yang memberi bantuan agar mereka tidak sungkan pada dirinya dan menyadari bocornya rahasia rumah tangga.


Setiap hari, dari sebelah rumah mereka sering kali Asma mendengar rengekan Fahmi yang minta dibelikan paha ayam, seperti di Upin & Ipin. Tanpa sengaja, lewat renggangnya celah anyaman bambu, tetangga itu mengerti bagaimana Yumna, ibu Fahmi, selalu hanya memberikan bagian krispi ayamnya saja pada balita lucu itu. Daging ayamnya digoreng dengan dibumbui kecap untuk esok harinya. Itu pun hanya dimakan setengah. Setengahnya lagi dipanggang agar mereka bisa lebih lama menyenangkan putra kecil kesayangan mereka itu.


Ayah dan Ibu Fahmi tak pernah sekali pun menikmati ayam krispi yang hanya satu. Mereka selalu memberikannya pada anaknya, karena itulah makanan yang disukai pelita hati mereka, meramu makanan itu sedemikian rupa hanya agar sedikit lebih lama bisa dinikmati.


Namun sayang, ayam krispi yang dibeli sore itu, tak sempat digoreng oleh Yumna karena sudah tidak ada lagi minyak dan gas LPG.  Ayam itu pun membusuk dan harus dibuang.


Kedua wanita itu, Yumna dan Asma, terisak di tempat masing-masing.


Karena khawatir tetangganya kelaparan, dan tak ingin membuat canggung dan malu, Asma mendatangi orang yang dipercayanya tak akan menyebar luaskan berita ini, sekaligus mempunyai alasan tepat untuk membantu, meski hanya sekadar gorengan.


Makanan pun diterima. Dalam hati, Muna tak sedikit pun berniat meminta harga gorengannya pada Asma. Ia ikhlas membantu, meski dirinya tahu Asma akan bersikeras membayar di lain hari.


Binar di mata Yumna tak bisa disembunyikan. Akan ada sesuatu untuk menemani sisa nasi tanpa harus menagih hutang kepada wanita yang selalu lewat dekat rumahnya. Wanita dengan rentengan gelang sepuhan yang pernah datang mengiba saat dirinya menjual rumah lamanya dulu.


_Selesai_

Komentar

Postingan Populer