Alif dan Nasi Panas
"Ayo, kita sarapan!" Saya berseru sembari menata piring dan lauk-pauk.
Sebenarnya, itu masihlah pagi yang menyenangkan. Kami duduk bersama di atas tikar. Alif memimpin doa, lalu saya dan si Ayah mengamini. Kami hidup dengan damai dan rukun.
Sampai negara api menyerang!
"Ibuuu! Kenapa nasinya panas?" Bocah empat tahun itu protes, seolah seumur hidupnya tidak pernah bertemu nasi panas.
"Oh, iya, tidak apa-apa, sebentar lagi juga dingin," jawab saya. Tentu itu bukan sebuah jawaban baginya.
"Kenapa nasinya panas?" ulangnya.
"'Kan, baru mateng, ya, panas."
"Kenapa dipanaskan?"
"Biar mateng, Nak, biar mateng!"
"Tidak usah dipanaskan, Ibu!"
Saya mulai ragu, kenapa percakapan ini hanya di antara kami berdua? Sementara ayahnya cuma jadi penonton.
"Jangan dipanaskan, Ibu! Dingin saja!"
Saya fokus mengipasi nasi sambil menahan kesabaran.
"Ayah, kenapa nasinya panas?"
Akhirnya arah angin berubah.
Si Ayah, tanpa banyak cincong, mengangkat bocah kecil itu ke dapur, lalu membuka tempat penyimpanan beras.
"Ini beras. Kalau ndak dimasak, ndak dipanaskan, ya ndak jadi nasi. Mau makan beras?" todong si Ayah.
Acara sarapan pagi pun kembali berlanjut dengan aman sentosa. Syukurlah.
Lamongan, 10 Juli 2021.
Komentar
Posting Komentar