Menjelang Lelap

"Sahil sudah mau tidur?" 


"Iya, Ibu. Sahil sudah mengantuk," jawabnya sambi mengucek mata menggunakan kedua tangannya.


"Ya sudah, ayo, baca doa sebelum tidur dulu, ya!"


"Tapi, 'kan, Sahil capek, Ibu!" Dia memberi alasan.


Kurebahkan diri di sisinya dengan bertopang pada siku. Menepikan rambut yang menutupi dahinya, lalu mengusapnya perlahan. Sebuah kecupan mendarat di dahi secepat kilat, anak lelakiku itu tak sempat mengelak. 


"Yey, kena!" seruku senang.


Kami tertawa sejenak. Seandainya dunia semudah ini, yang menang dan kalah sama bahagianya.


Kulengkungkan senyum tipis, menatap kedua matanya yang cemerlang bak purnama. 


"Sahil, kesayangan Ibu, terima kasih, ya, hari ini Sahil pinter sekali. Bisa membuat banyak bentuk lego, mengaji, salat, berdoa sebelum makan, dan masih banyak lagi. Ibu saaayyyaangg Sahil. Sahil anak soleh!"


Segaris senyum menggembungkan kedua pipi gembulnya. Matanya tak bisa menyembunyikan binar bahagia.


"Ibu juga minta maaf, ya, sayang, tadi ibu marah-marah sama Sahil." 


"Kenapa ibu marah?"


"Iya, tadi ibu sedang capek, Sahil berantakin setrikaan yang baru saja selesai. Harusnya Ibu lebih sabar!" 


"Ibu jangan pukul Sahil, ya, Ibu. 'Kan, sakit, Ibu!" Sahil terbata-bata menyampaikan. Bibirnya melengkung ke bawah, sedikit berkaca kedua matanya.


Astaghfirullah! Ampuni aku, Ya Allah!


"Iya, Nak. Ibu ndak akan pukul Sahil lagi. Ibu minta maaf, ya, Nak. Ibu salah. Tapi ibu sayang sahil. Ibu ndak ingin marah sama Sahil. Ibu dibantu diingatkan, ya, Nak. Sahil mau, 'kan, nurut sama Ibu?"


"Iya, Ibu."


Kukecup pipinya pelan. Rasa bersalah ini begitu menyesakkan.


"Sini, disayang-sayang ibu." Kupeluk tubuh kecil itu sambil mengusap pipi dan rambutnya. Berkali-kali kukecup pipinya. 


Ketika hidung ini menempel di pipi gembulnya, didesak-desakkannua pipi itu lebih kuat ke hidungku, lalu dia tertawa riang.


"Ibu pesek! Yeay!" 


Kuusap-usap hidungku, sementara si pipi gembul terbahak-bahak.


"Sudah, sudah, sekarang berdoa, ya ...." Kuletakkan guling dalam pelukannya.


"Sahil mau dipijitin kakinya, Ibu!" pintanya.


"Oke, tapi baca doanya lengkap, ya."


Doa mau tidur pun dilantunkannya dengan lantang. Lalu syahadat, ayat kursi, dan terakhir doa untuk kedua orang tua. Semua sudah dihafalnya di luar kepala, mungkin karena rutin kubacakan bahkan semenjak masih bayi.


Di bagian terakhir, doa untuk kedua orang tua disenandungkannya dengan indah.


"Allahummaghfirli dzunubi wa liwalidayya, warhamhuma kama robbayani shoghiro."


Doa sudah selesai dilantunkan, tapi aku tidak. Aku tertegun mendengar doa yang sudah setiap hari kami ulang-ulang ini.


Doa yang dibacakan pelita hatiku ini adalah doa kasih sayang. Doa memohon pengampunan. Doa agar Allah membalas kasih sayang kami kepadanya di masa kecil ini. 


Aku tergugu. Kasih sayang macam apa yang telah kuberikan sementara aku mukul dan melampiaskan amarah kepadanya?


Balasan seperti apa yang akan kudapatkan nanti atas perlakuanku?


Akankah di masa tua nanti kemarahan dan pukulan juga yang akan kudapatkan?

Akankah anakku akan bersabar kepadaku saat aku renta dan menyusahkan nanti?


Sungguh aku takut akan doa anakku ini. Sedikit yang kutahu, lafadz "Robbayani" tak sebatas berarti mengasihi. Itu lebih luas kepada membimbing, merawat, atau mendidik.


Kuharap aku menabur cinta di hati anakku, agar kelak menuai kasih sayang dan doa darinya. 


Ya Allah, ampuni hamba!

Aku bertaubat atas dosaku kepada anakku.


Kupeluk erat kesayangan kecilku. Menyembunyikan basahnya mata oleh genangan. 


"Ibu sayang Sahil," ucapku lirih.


 "Ibu! Kok berhenti pijitin Sahil?" protesnya.


Kularikkan senyum. Mencoba menawar pintanya.

"Sambil tidur, ya?"


"Ibu duduk aja, nanti dibacakan surat pendek juga, ya!" diktenya, sebagaimana yang kurutinkan setiap malam.


"Siap, tapi sayang dulu!" pungkasku tak mau rugi.


Akhirnya, kubacakan surat An-Nas sampai At-Takatsur sembari memijat kedua kakinya. Mata sayunya terpejam di dua surat terakhir, tapi tetap kutuntaskan juga. Mengucap shodaqollah, lalu meniup kepala hingga telapak kakinya. 


Putraku yang berharga. Yang suka menyebutku cantik bahkan saat bangun tidur, yang selalu berebut perhatian saat aku sedang berdiskusi dengan ayahnya, yang mengusap wajahku dengan tangan kecilnya saat aku sakit. 


Dia yang selalu menungguku di pintu setiap kali aku keluar, meminta pelukku, dan berkata sayang padaku. Dia yang membuatku merasa sangat berarti dan berharga di dunia ini.


Adakalanya, karena begitu seringnya menemaninya, aku lupa, bahwa dirinya tak lebih dari balita tiga tahun yang tak mengerti banyak hal. Dia sangat layak untuk dicintai dan disayangi. Dia adalah aku, setiap senti darinya berasal dariku. Senyumnya adalah senyumku, sebagaimana sakitnya adalah sakitku. Menyakitinya, seperti menyakiti diri sendiri berkali lipat.


Kuselimuti tubuh mungilnya dengan hati-hati. Mematikan lampu, lalu berbaring di sampingnya.


Selamat rehat, Kesayangan kecilku ....


-selesai-

Komentar

Postingan Populer