Mengetik

Kebiasaan itu tidak hanya mucul karena diajarkan kepada anak, tapi juga diturunkan. 

"Ibu sedang apa?" tanya Alif.

Sudah sering saya terciduk sedang sibuk nulis di aplikasi. Padahal tadinya saya lihat si kecil lagi asyik main atau mewarnai.

"Sedang mengetik."

Biasanya saya jawab sedang menulis, tapi selalu berakhir dengan petuah yang bikin saya tak berkutik, "Kata bu guru, menulis itu di kertas, bukan di hape!" See?

"Ooh ... sama, Alif juga mengetik seperti Ibu." 

Saya kaget. Mengetik apa? Bagaimana?

Alif mengulurkan ponsel kecil yang biasa kami pinjamkan sesekali. Dia benar-benar mengetik, rupanya.

Begini kira-kira isi ketikannya:

[ HJshdohhdkoohsuhmnbxv ]

"Wahh, hebat. Alif pinter, bisa mengetik seperti Ibu!" Saya memujinya.

"Ayo, dibaca!" Dia menunjuk ketikannya.

Saya kaget lagi. Niat saya memuji tadi tentu untuk menyenangkannya. Mana saya tahu kalau harus berakhir uji nyali begini. 

Ketikan semacam ini, cemmana pulak bacanya? 

"Ibu, ayo baca!"

Saya bingung kudu gimana. 

"Ayo Ibuuuu!!!"

A-anu ... I-ibu ...  

Komentar

Postingan Populer