MENCARI ANAK
Senin kemarin, sekolah libur karena guru-guru ada acara. Alif baru saya beri tahu perihal libur ketika selesai mandi. Alhasil, dia kegirangan. Dengan segera dia membuat agenda kemerdekaan untuk hari itu. Sebagai ibu yang bijaksana, saya tidak melarang, tidak juga mengiyakan.
"Bilang Ayah saja," ucap saya, lalu memberikan senyum ala Puteri Indonesia.
Rupanya Alif mematuhi instruksi. Sambil cepat-cepat memakai sandal dia berlari dan berteriak. "Ayah, Alif main!"
Benar-benar anak penurut.
Saya dan ayahnya pun bergegas memanggil-manggil. Sedikit berteriak, saya menyuruh dia kembali.
"Mau main di mana?" tanya si ayah.
"Di mana-mana," jawab si anak, cepat.
"Di mana?"
"Sama teman-teman."
"Teman, siapa? Yang mana?"
"Ndak tahu."
Muter-muter begitu terus percakapan ayah dan anak itu. Saya pun meninggalkan mereka ke belakang, mengurus yang pasti-pasti saja, cucian.
Alif akhirnya dapat izin main. Saya bolak-balik riwa-riwi ke depan dan ke belakang untuk memantau peredaran anak semata wayang. Mula-mula, masih terlihat di sekitaran. Lama-lama, agak jauhan, tapi masih terlihat sekilas-sekilas.
Setengah jam berlalu, tidak kelihatan lagi bayangannya.
"Mas, anaknya di mana? Kok, ndak kelihatan?" tanya saya ke Suami yang sibuk di ruang kerjanya. Di sana ada jendela yang menghadap ke luar. Biasanya si ayah ini memantau anaknya dari situ.
"Tidak tahu," jawabnya, datar.
Saat itu juga, saya keluar mencari. Ke selatan, utara, timur, dan barat. Nihil. Saya juga bertanya ke ibu-ibu yang anaknya biasa main dengan Alif. Nihil juga. Alif tidak ditemukan.
"Tahu Alif di mana?" kali ini saya menanyai dua anak kecil sepantaran Alif yang sedang besepeda. Alif biasa bermain dengan mereka.
"Ndek lapangan, paling. Alif sering nang kono (Mungkin di lapangan. Alif sering ke sana)."
"Tadi lihat?"
Anak itu mengangguk.
"Lapangan mana?"
"Nok Kono (di sana)." Dia menunjuk ke arah barat. "Lek gak ngono mlaku-mlaku nang RT telu (Kalau nggak, jalan-jalan ke RT tiga)."
"RT tiga?" Saya terkaget-kaget.
Kami ini tinggal di RT 6. Lah, RT 3 kan juaauuh banget itu. Mau ngapaiiinn dia ke sana, duh biyunnngg!
Akhirnya saya berjalan secepat mungkin ke arah barat. Ke lapangan yang ditunjuk anak tadi. Yang ke RT tiga sebaiknya ayahnya sajalah nanti kalau masih belum ketemu juga.
Lapangan itu, bukan main, ternyata terletak di balik Tangkis. Tangkis adalah tanah yang ditinggikan menyerupai bukit kecil yang memanjang mengikuti alur Bengawan Solo. Saya yang ahli rebahan, kali itu harus mendaki.
Berat sekali rasanya perjalanan ke barat mencari anak suci.
Begitu sampai di atas, ternyata lapangannya sebagian terendam air hujan atau luapan sungai Bengawan. Sepi. Rasanya tidak mungkin Alif ke sini. Dia tidak bisa lari-lari kalau becek begini. Apa lagi temannya sedang sepedahan, tadi.
Saya berbalik arah, memutuskan kembali. T-ta-tapi ... kok ... tinggi sekali, ya?
Dengan menegak-negakkan gengsi, saya turun gunung seperti sesepuh kehilangan tongkat.
Alhamdulillah berhasil. Dan tidak ada yang lihat ... sepertinya ... semoga saja.
Saya berjalan pulang seelegan mungkin. Meski dongkol bukan buatan.
Lima puluh meter menuju rumah, terlihat anak kecil dengan rambut petal memakai topi. Dia sedang sibuk sekali. Berlari, berteriak-teriak heboh mengejar ayam tetangga.
Melihat saya, dia segera berhenti. Tanpa instruksi, Alif mengikuti saya pulang dalam diam.
Komentar
Posting Komentar