Mati Lampu
Pukul sepuluh, Suami berpamitan keluar untuk urusan pekerjaan. Saat itu, saya sedang sibuk menata tanaman untuk hiasan dalam ruangan. Begitu sibuknya, sampai tidak sadar kalau ternyata semua lampu padam. Pastilah mati listrik lagi seperti biasanya jika musim hujan tiba.
Berbeda dengan ruangan lain yang gelap, ruang tamu tempat saya berada tetap terang oleh cahaya dari luar. Apa lagi pintu dan jendela dibuka lebar-lebar. Biasalah, mumpung rapi. Meskipun saya yakin tidak akan ada tamu atau sekadar kurir tanya alamat. Mereka biasanya tiba-tiba hadir kalau rumah sedang jadi medan pertempuran.
Sampai siang, sampai Alif pulang sekolah, lampu masih juga mati. Dengan sabar, saya menunggu listrik kembali menyala. Sayangnya, tidak ada tanda-tanda apa pun sampai azan Zuhur tiba. Bahkan sampai Suami pulang, sekitar jam satu.
"Mati lampunya lama sekali," keluh saya.
Sementara ayah Alif biasa saja. Dia tidak keberatan dengan suasana gelap karena memang sendirinya suka gelap-gelapan. Kalau saya adalah tukang menyalakan lampu, dialah tukang mematikan lampu.
"Sejak kapan?" Itu saja responnya, yang kemudian saya sahuti dengan grand launching buku dadakan saya yang berjudul Mati Lampu.
Berjilid-jilid saya menjabarkan apa saja yang terjadi sejak dia berangkat. Tentang rumah yang jendelanya hanya di depan karena berdempetan dengan tetangga, tentang saya yang nahan kebelet sejak pagi, anak yang belum ganti baju seragam, potensi guru lewat, ponsel mati, kelaparan, pemanasan global, konspirasi internasional....
Segera Suami memeriksa meteran listrik di luar, lalu masuk kembali dan menyalakan lampu-lampu.
Ternyata, sesungguhnya, tidak ada mati lampu. Selain efek krisis ekonomi global, ini juga efek samping hidup bersama tukang matikan lampu.
Dari pada ribut, kami pun ke dapur, hendak makan. Dan ternyata belum ada nasi.
Kan ... tadi ... mati lampu ....
Komentar
Posting Komentar