Mangkuk Kesayangan

Hari itu saya memasak semur kentang dan telur. Setelah matang, saya membawanya sedikit ke tempat ibu mertua di desa sebelah.

Karena tidak ada rantang kecil, saya menggunakan mangkuk cantik hadiah dari Quaker Oats kemasan 1.200 gr. Mangkuknya memang cukup bagus. Saya memilihnya karena selain cantik, juga massanya berat, sehingga lebih stabil terhadap gravitasi saat membawanya naik motor. 

Saya berangkat bersama Alif, diantar suami.

Sesampai di tempat mertua, saya memberikannya dengan senyum termanis yang saya punya. Ibu mertua pun menerima dan menyicipi masakan saya itu dengan senang. 

Semuanya indah, sesuai skenario.

Tapi, kemudian... tiba-tiba... 

"Mbah Uti, itu nanti mangkuknya jangan dihilangkan, ya. Jangan sampai pecah. Dicuci yang belsih, telus dikembalikan!" ucap sebuah suara yang saya sendiri kaget kok bisa keturunan saya ada yang begini.

Ibu mertua tertawa. Saya tersenyum sambil memberikan tatapan 'Sumpah bukan saya yang ngajarin, Bu!'

Komentar

Postingan Populer