Mandi Pagi

 Sejak bangun tadi, feeling saya sudah nggak enak. Terutama sejak air rebusan untuk mandinya Alif mulai mendidih. Saya matikan kompor, lalu balik merenungi kehidupan sembari duduk selonjor.


Setengah jam berlalu, si ayah mengingatkan. Akhirnya prosesi mandi pagi Alif dimulai. Saya bergegas menuang air panas, lalu menyuruh Alif bersiap melepas pakaian.


"Ibu tahu tengkorak, ndak?" tanyanya saat mau masuk kamar mandi.


"Baca doa sebelum masuk kamar mandi!" sahut saya, sedikit ketus.


Feeling saya makin nggak enak.


Dia pun berdoa.


Masuk kamar mandi, dia terus-terusan bertanya perihal tengkorak. 


"Ibu tahu, ndak, tengkorak?"


"Tengkorak itu apa?


"Wah, kok, Ibu tahu tengkorak?"


"Tengkorak itu bisa mangap, ndak?"


"Tengkorak itu bisa gerak, ndak?"


"Kok, tengkorak bisa bergerak?


"Apa? Otot? Apa itu otot?


"Hah? O ... di dalam badannya Alif ada tengkoraknya?"


"Teng--" 


Belum selesai ngomong, saya sudah menggosok giginya. Dialama-lamain biar puas. Siapa tahu bisa amnesia sedikit saja sampai di detik sebelum mandi tadi. 


Selesai gosok gigi, saat mulutnya masih berbuih-buih, dia mulai lagi. "Ibu, tengk--"


"Haarraahh kono, nguomoong terus. Mulutnya itu dibersihkan dulu!" Cerocos saya sambil menyodorkan air untuk dia berkumur.


Ganti dia merengek minta sabun dodol hijau. Lalu topik sabun dodol itu menjelma menjadi ular naga panjangnya bukan kepalang.


Sampai akhirnya kami keluar. Tepat di depan kamar mandi, ada si ayah menyambut dengan cengiran. 


Mandi pagi membuat Alif bersih, segar, dan harum. Sementara saya langsung nelen obat.

Komentar

Postingan Populer