Like Father Like Son


Suatu sore, saya menakar nasi yang baru matang ke dalam baskom, lalu mendinginkannya di depan kipas angin. Rencana mau bikin nasi goreng. Alif yang waktu itu masih empat tahunan, memantau setiap proses dari sejak nasi masih berupa beras. Alhamdulillah, bersyukur punya anak yang begini perhatian. Sudah bagus dia enggak minta untuk memantau sejak beras masih berupa bibit padi. 

Saya tinggalkan nasi di depan kipas angin, lalu rebahan di kursi.

"Habis ngapain?" tanya si ayah.

"Itu, tadi ndinginkan nasi di depan kipas angin."

"Nasi panas didinginkan, lalu dipanaskan (goreng) lagi, lalu nanti didinginkan lagi?" Tampak jelas lelaki yang baru lima jam yang lalu makan itu sudah kelaparan. Biasanya memang begitu, suka agak oleng kalau enggak ketemu nasi agak lama.

Beberapa menit berlalu tenang. Si ayah bangkit dari duduknya di depan laptop, lalu menuju ke kamar, tempat nasi tadi dikipasi. Di sana ada Alif menunggui nasi sambil bermain mobil-mobilan.

Tiba-tiba terdengar suara pekikan si anak. "Ayah, jangan dimakan, itu kan nasi untuk digoreng. Tunggu dimasak dulu sama ibu, baru nanti dimakan." 

Benar-benar anak yang amanah dengan pesan ibunya. Saya kagum dengan diri sendiri karena merasa berhasil mendidik anak.

"Ayah, 'kan, cuma icip." Si Ayah membela diri.

Saya menyimak takdzim dari ruang tamu. Siap mendengar ceramah lanjutan si kecil kepada ayahnya. 

"Oh, Alif juga mau, deh!" 

Lamongan, 23 Juni 2021.

Komentar

Postingan Populer