Langit dan Cahaya 4: Origami Lobster

Langit dan Cahaya, dua saudara yang selalu saling menguatkan, sedang menghabiskan waktu sore mereka dengan duduk di teras ditemani dua cangkir teh hangat.

Cahaya senang mengajari kakaknya berbagai model lipatan origami. Sore ini, gadis periang itu membuat origami bentuk lobster, sementara sang kakak menikmati teh panasnya tanpa memperhatikan apa yang Aya lakukan, sebagaimana peraturan yang selalu mereka berlakukan.

"Ini dia, lobster merah buatan Aya, yeaayy!" Cahaya berseru senang memamerkan lobster lipatannya.

Langit mengambil lobster kertas tersebut lalu mengamatinya. 

"Bagus," komentar Langit.

"Sekarang, giliran Kakak yang bikin, ya," tantang Aya.

"Wah, dibongkar dulu, boleh, ya?" Sang kakak meminta izin.

"Oke, bongkar saja." Aya setuju.

Dengan pelan dan hati-hati, Langit membuka lipatan demi lipatan yang dibuat adiknya. Otaknya bekerja merekam tahap mundur proses pembuatan origami lobster tersebut.

"Seandainya Aya boleh memilih, Aya ingin menjadi seperti Kak Langit," gumam Cahaya.

Gerakan tangan Langit seketika terhenti. Dia menoleh, melihat adiknya sebentar, lalu menunduk lagi, menekuni kertas lipatnya. Dia tahu adiknya masih akan melanjutkan cerita.

"Kakak pintar, ganteng, jago masak, catur, bahkan karate juga. Semua yang Aya inginkan ada di kakak. Sayangnya, tidak ada yang bisa Aya lakukan dengan benar selain melukis." Cahaya menghembuskan napas, kesal.

"Kapan, ya, nilai rapor Aya berubah jadi bagus semua, punya piala, jadi juara, dan orang-orang berhenti membandingkanku dengan Kakak?" Aya bertanya kepada dirinya sendiri.

"Aku persis seperti lobster ini. Sebagus dan sebesar apa pun, tetaplah udang yang bodoh." Mulut adik Langit itu mengerucut.

Dalam setiap gerakan lipatan yang dilakukan Langit, meski seolah tak begitu mempedulikan, dia sebenarnya sedang mencerna dan memikirkan setiap keluhan yang dikatakan adiknya.

"Tapi, Aya punya teman?" tanya Langit. Tangannya masih lincah menari dengan kertas. Mencoba pola demi pola untuk meniru rancangan adiknya.

"Punya. Sari, Zia, Neta, sama Kaila, mereka sahabat-sahabat baik Aya," jawab aya datar.

"Aya punya cita-cita?" tanya Langit lagi.

Mendengarnya, Cahaya mengernyitkan dahi. 

"Iya dong. Aya mau jadi pelukis profesional. Punya galeri sendiri, dan mengajar anak-anak bersenang-senang dengan warna," jawab si bungsu itu.

"Kalau begitu, Kakak ingin jadi seperti Aya saja. Aya punya semua yang Kakak inginkan."

"Maksud Kakak? Memangnya Aya punya apa? Apa yang Aya punya tapi Kak Langit nggak punya?" 

"Sahabat terbaik Kakak sudah pergi. Dia sangat baik sampai-sampai Tuhan rindu kepadanya. Setelahnya, tinggal orang-orang licik yang hanya ingin berteman untuk memanfaatkan Kakak. Tidak mudah, Aya, menemukan teman yang benar-benar bersedia menjadi teman. Serupa tapi tak sama. Bukan perkara mudah menemukan jarum dalam tumpukan jerami."

Tak kunjung selesai, si sulung itu kembali membongkar lipatannya.

"Aya sangat beruntung bisa memiliki bahkan lebih dari satu teman baik." Langit menghela napas. "Aya juga sudah menemukan jati diri, sesuatu yang belum tentu bisa orang temukan seumur hidup. Kemampuan yang spesifik, dan gambaran jelas tentang bagaimana kamu ingin dan akan menjalani hidup di masa depan. Sesuatu yang masih membuat Kakak gamang hingga kini. Semakin banyak pilihan, semakin sulit menentukan."

"Jadi, gimana?" Aya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Aya harus bangga, Aya jauh lebih hebat dari yang Aya kira!" ucap Langit sambil menyodorkan kertas lipatnya yang berantakan.

Cahaya mengambil dua kertas lipat baru, lalu memberikan selembar kepada kakaknya. Ia mengulang dari awal, mengubah selembar kertas persegi itu menjadi sebentuk lobster yang dia banggakan.

Langit tersenyum sembari mengikuti setiap lipatan yang dibuat adiknya, menahan diri agar jangan sampai tak sengaja mengerjakannya lebih cepat dari gadis kecil kesayangannya.

Komentar

Postingan Populer