Langit dan Cahaya 3: Baju Mahal untuk Ibu
Kring ... kring ....
Suara bel sepeda membuyarkan lamunanku. Bapak tersenyum semringah memamerkan gigi putihnya. Kami punya misi penting sore ini. Acara khusus lelaki di keluarga kami: jalan-jalan ke pasar.
Sesekali, tidak ada salahnya, 'kan, orang kecil seperti kami sedikit bersenang-senang?
Bapak sengaja menjemputku ke sekolah langsung dari tempat kerja, semata hanya agar tidak perlu membuat alasan kepada Ibu dan Cahaya.
Aku duduk dengan santai di boncengan. Sore yang teduh menambah indahnya momen ini. Bapak mengayuh sepeda sambil bertanya banyak hal. Seputar sekolah, teman, atau sepak bola yang menjadi favorit kami berdua.
Lima belas menit berlalu, akhirnya kami tiba di pasar kecamatan. Saat sore, banyak toko-toko pakaian yang buka. Kami memasuki toko satu demi satu demi menemukan sesuatu yang kami cari.
"Ini bagus, Pak!" Kutunjukkan sepotong gamis putih yang terlihat indah.
"Bagus mana sama yang ini?" tanya Bapak sambil menaik turunkan kedua alisnya.
Sebuah gamis merah muda kecoklatan dengan sedikit bordiran elegan pada bagian bawahnya. Sederhana namun tetap menawan.
Kami sepakat untuk membayar pakaian seharga dua ratus ribu itu. Senyum terkembang sempurna di wajah Bapak. Aku pun begitu, tidak kurang bahagianya dibanding lelaki penyabar itu. Jika kuingat deretan pakaian milik ibu, ini pastilah yang paling bagus dan mahal sejauh ini.
Ibu selalu mengalah kepada anak-anaknya, bahkan kepada Bapak sekalipun. Sudah lima kali lebaran baju Ibu tak pernah ganti. Baju lebaran Ibu adalah baju kebangsaan berwarna biru muda yang selalu Ibu kenakan setiap kali ada acara penting. Tidak terhitung sudah berapa kali ibu menjahit sambungan jahitan atau kancingnya yang lepas.
Ibu selalu melihat bagaimana anak-anak dan suaminya sebelum melihat dirinya. Aku dan Bapak selalu kalah jika berdebat soal pakaian dengan wanita keras hati itu. Jika sedang ada uang, Ibu lebih senang menabungnya, membeli kebutuhan sekolah kami, atau jika sedang bisa dinego, sepotong daster lengan panjang lima puluh ribuan akan dibelinya, itu pun masih dengan ekspresi tak rela.
Sebelum pulang, kami membuat sebuah kesepakatan demi sempurnanya misi ini. Ibu, dengan cara apapun, tipu daya, pemaksaan, atau bahkan pengancaman, harus menerima hadiah ini, kalau bisa dengan suka rela.
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, kami harus segera pulang sebelum membuat resah para wanita di rumah.
"Bagus," komentar Ibu seraya mengangkat gamis barunya saat kami tiba di rumah dan memberikan satu-satunya benda yang kami beli tadi.
Ibu menatap penuh kekaguman. Binar itu tidak dapat disembunyikannya. Apa kubilang, apa pun yang selalu dikatakan Ibu soal pakaian dengan harga dan desainnya, Ibu tetaplah wanita yang menyukai pakaian indah. Pelajaran penting: Jangan pernah menawari wanita ketika ingin memberikan sesuatu.
Namun, semarak kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Tatapan mata Ibu berubah. Entah kenapa, binar benderang tadi tiba-tiba saja lenyap tak bersisa. Aku, Bapak, dan Cahaya saling tatap satu sama lain. Kurasa semua orang merasakan firasat tak baik seperti yang kurasakan.
Aku menelan ludah saat Ibu menatapku dan Bapak bergantian. Kami berdua tak ubahnya dua ekor ayam yang tersudutkan oleh rubah. Mengkeret.
"Harga?" tanya Ibu sambil menunjuk pakaian baru itu.
Fyuh, untung saja aku sudah membuang tag harganya. Akan tetapi, kami masih belum aman. Belum ada kesepakatan soal berapa harga yang bisa dilaporkan kepada Ibu. Salah sedikit, bisa gagal semua rencana. Bukan tidak mungkin wanita yang pelit kepada dirinya sendiri itu akan menjual gamis cantik itu dan menukarnya dengan sekarung beras.
"Tujuh puluh ribu, Bu. Iya, tujuh puluh ribu," jawabku tergagap.
Kulirik Bapak yang membuang napas lega. Tampaknya lelaki itu setuju dengan harga yang kusebutkan.
Benar saja, Ibu tersenyum cerah, lebih lebar dari saat menerima hadiah tadi.
Aku pun lega. Tidak sia-sia aku dan Bapak mengumpulkan uang dengan bekerja sambilan sebagai kuli angkut musiman saat panen kali ini tiba.
Kuteguk teh manis buatan Cahaya yang masih hangat. Adikku itu tidak banyak protes meski tidak diajak serta dalam misi rahasia ini.
Baru setengah gelas teh kutandaskan, Ibu kembali membuka suara.
Wanita yang biasanya tidak banyak bicara itu kali ini mengeluarkan lebih banyak kata.
"Gamisnya bagus sekali, ya, murah juga. Beli di mana? Besok biar Ibu ambilkan tabungan di pengajian, Bapak tolong belikan setengah lusin, ya, nanti Ibu jual lagi seratus ribuan, pasti laku keras!" ucap Ibu sambil menerawang, mungkin membayangkan tumpukan uang yang bisa didapatkannya nanti jika jadi berjualan.
Habislah aku.
Komentar
Posting Komentar