Langit dan Cahaya 2: Nilai Kebanggaan

"Bu, Langit, sama Cahaya berangkat dulu," pamit sulungku, lalu mencium tangan dan mengucapkan salam diikuti oleh adiknya, Cahaya.

Ritual pagi yang mendebarkan. Melepas dua kesayanganku yang bersemangat. Dua pribadi berbeda dengan gebu yang sama kuatnya. Aku tidak pernah melewatkan bagaimana senyum dan binar itu memenuhi wajah mereka. Karena ketika mereka bersemangat, aku merasakan semangat yang sama untuk berjuang demi mereka.

Menjelang waktu Salat Dhuhur, Cahaya pulang. Dua matanya sembab dan memerah. Dia menyeret langkahnya menuju kamar dengan kepala menunduk.

Kutinggalkan tumpukan pakaian yang sedang kulipat, lalu memghampiri Cahaya di kamarnya.

"Aya, kenapa?" tanyaku seraya mengusap rambut panjangnya yang dikepang satu.

Gadis berwajah bulat itu cepat-cepat mengusap pipinya yang basah.

"Tidak apa-apa, Bu," jawabnya lirih.

Aku mendekat, memeluknya. Aku tidak akan bertanya lagi jika memang dia tidak ingin bercerita.

"Bu, apa Ibu akan lebih senang jika aku mendapat nilai yang bagus?" tanyanya di sela-sela isak tangis.

Kulepas pelukan dengan perlahan, menghapus bekas lelehan air mata yang mengaliri wajahnya.

"Ibu tidak pernah bilang begitu," jawabku.

Mata yang tadinya sendu sedikit membelalak. Kuberikan senyum meyakinkan, mengirim sinyal bahwa aku bersungguh-sungguh.

"Berarti, Aya boleh dapat nilai jelek?" Gadisku kembali bertanya.

"Itu juga tidak!" Aku mencubit hidungnya, lalu terkekeh kecil.

"Maksud Ibu?" Cahaya mengernyitkan dahi. Antara bingung dan tak terima.

"Katakan dulu kenapa menangis!" ucapku, lalu menepuk pelan pipinya.

Suasana hening selama beberapa saat. Bisa kupahami pentingnya jeda ini untuknya.

"Ibu, tadi ada ulangan mendadak." Dia memulai ceritanya.

Aku memusatkan perhatian. Tidak bertanya sampai dia selesai bercerita.

"Aku kesulitan, Bu. Tidak satu pun soal bisa kukerjakan dengan baik. Aku takut nanti tidak bisa naik kelas lagi." Luruh sudah air matanya. Bisa kurasakan beban berat di pundaknya. Beban yang sebenarnya tidak pernah kutanggungkan kepada dia yang kusayangi.

"Semua teman membuka buku catatan mereka diam-diam. Ibu pasti tahu apa yang terjadi kepadaku yang tidak pandai di pelajaran sekolah ini."

***

Esoknya, hasil ulangan dibagikan.

"Bu! Ini nilai ulangan dadakan kemarin!" teriaknya bersemangat di malam hari usai salat Isya. 

Aku menerima selembar kertas yang dengan bangga diulurkannya kepadaku. 

"Bapak, lihat ini!" Dia menyeret bapaknya yang baru saja pulang dari musalla.

"Bapak bangga sama Cahaya! MasyaAllah, Alhamdulillah. Semoga anak salihah Bapak selalu seperti ini." Suamiku memeluk Aya lalu mencium keningnya.

Tidak lama kemudian, kakaknya, Langit datang dengan senyum semringah. Remaja tampan itu mengintip lembaran kertas yang sedang kupegang. Langkah panjangnya membuatnya dengan cepat mengambil pulpen di kamar, lalu meminta kertas ulangan adiknya dariku. Dengan yakin, dia menambahkan angka satu dan nol di depan angka yang menjadi nilai hasil ulangan yang semua poinnya tidak ada jawabannya itu.

Komentar

Postingan Populer