Langit dan Cahaya 1: Binar Cahaya



"Sepertinya Cahaya harus berhenti sekolah," ucap Bapak sore itu sambil menyesap kopinya yang masih mengepulkan uap.


Kulihat Ibu menghentikan gerakan tangannya yang sedang menjahit kancing baju yang lepas. Mata sayu wanita itu menerawang ke pintu ruang tamu yang terbuka. Bulir bening menggelayut di pelupuk matanya yang memerah. Ibu tidak menjawab sepatah kata pun. Hening, tapi sendu.


Aku yang sedang mengerjakan bank soal hanya bisa mencuri dengar. Seperti ada yang tercabut dari dada ini. Cahaya, adikku, sungguh malang nasibnya. Kami semua tahu betapa gadis itu tak pernah kalah oleh rintangan. Bagaimana antusiasnya setiap kali hendak berangkat ke sekolah menciutkan keraguan kami akan semangat dan kemampuannya.


Siang tadi aku dan Aya baru saja menerima rapor semester ganjil. Aku sudah SMP kelas 3 sementara Aya masih SD kelas 4. Aya sudah tiga kali tidak naik kelas, seharusnya dia sudah kelas 1 SMP sekarang. Dan rapor semester ganjil tadi siang tidak menunjukka tanda-tanda adikku akan naik kelas tahun ini.


"Bapak sudah tidak punya pekerjaan lagi, Bu. Tidak ada cukup uang untuk membiayai sekolah Cahaya. Lagipula sepertinya dia ... kurang mampu."


Kuputar posisi meja belajar agar aku tidak lagi menghadap ke arah Bapak dan Ibu. Aku tidak ingin mereka melihat wajahku sekarang. Tiba-tiba saja tikar ini terasa dingin, membuat kakiku menggigil. Kuletakkan pulpen yang sejak tadi kugunakan. Gairah belajarku hilang. Aku mengusap wajahku yang perlahan membasah. Di luar sana, adikku sedang berteriak-teriak senang bermain air.


"Bu, Pak, Kak, lihat ini, aku bisa bikin pelangi! Hahahaha!" pekiknya senang. 


Wajahnya cemerlang tersorot sinar matahari sore. Aku mengangguk mengacungkan jempol.


Esoknya dan beberapa bulan kemudian, Cahaya hanya di rumah sepanjang waktu. Wajah manisnya masih menampilkan senyum namun sudah tak selepas sebelumnya. Binar matanya hanya kembali saat ibu membukakan buku-buku pelajaran yang ibu pinjamkan dari beberapa teman Aya dan saat dia melukis.


Kami semua berusaha keras agar Cahaya kami kembali seterang dulu. Bapak bekerja serabutan, tawaran apa pun diterimanya selagi halal. Ibu membuat kue-kue dan aku menjajakannya. Jika sempat, aku membuat kerajinan tangan untuk kujual kepada teman-teman di sekolah. Akan tetapi, uang itu sungguh susah untuk bisa terkumpul banyak. 


***


Ibu datang ke sekolah Cahaya dengan membawa setumpuk uang berwarna merah. Semua tanggungan dilunasi dan senyum Cahaya pun terbeli. Gadis periang itu berlari memeluk teman-temannya, lalu mengusap bangku tempatnya biasa duduk. Aku menemani ibu demi memastikan uang yang kami bawa cukup dan masih ada sisa untuk membeli sepatu untuk adikku itu. Aku ingin melihat kebahagiaan Ibu dan Cahaya.


"Ibu dapat uang dari mana?" tanya Bapak di malam hari setelah dia selesai bekerja sebagai kuli panggul.


"Dari Langit, Pak" jawab Ibu, menyebut namaku.


Bapak menatapku lekat. Aku jadi salah tingkah dibuatnya. Menurun sifat Ibu, aku tidak pandai berbicara atau menjelaskan sesuatu. Pikiranku terlanjur penuh berisi rumus dan materi pelajaran. Komputer berjalan, teman-teman menjulukiku.


Kuangsurkan selembar kertas yang kuanggap dapat menjelaskan semuanya kepada Bapak. Lelaki yang rambutnya sudah mulai memutih itu menerimanya dengan ragu, lalu membacanya.


Terlihat mulutnya bergumam lirih mengucapkan asma Allah berulang-ulang. Diusapnya air mata yang meleleh di pipi, lalu melipat dengan hati-hati kertas kwitansi bukti penjualan lukisan buatan Cahaya yang dihargai tiga juta rupiah.

Komentar

Postingan Populer