Labirin


"Bangun, Pak, minum air putih dulu. Bapak lapar, 'kan?" Aku membawakannya segelas air. Kubantu suamiku duduk bersandar pada tumpukan bantal. Seharusnya bukan minuman yang diberikan kepada orang lapar. Akan tetapi, jangankan makanan, sekadar menghangatkan air pun kami tak mampu.

"Pak, aku pamit sebentar, ya. mau beli beras," dustaku. 

"Hati-hati, Bu," pesannya lirih. 

Aku mengangguk. Kukenakan kerudung panjang, lalu keluar dan mengunci pintu. 

***

Di bawah pohon ceri yang tumbuh di depan rumah, aku berdiri kaku. Ke mana aku akan pergi, apa yang akan kulakukan, aku belum tahu. Yang jelas harus ada sesuatu untuk meredakan gejolak di lambung kami. 

Kuputuskan mendatangi rumah tetangga terdekat. Semoga dia sedang di rumah.

"Maaf, saya baru saja membayar biaya sekolah si Wela. Belum ada uang untuk saya pinjamkan." 

Aku menunduk lesu. Aku tidak meminjam banyak, hanya lima puluh ribu untuk membeli gas elpiji dan sedikit beras. Nanti kalau ada kiriman dari anak-anak pasti kuganti. 

Masih kuingat si Wela, putrinya yang kini sudah SMA. Dulu saat gadis itu masih SD, dia nyaris saja putus sekolah karena masalah biaya. Akulah yang meminjaminya uang yang kuambilkan dari gaji suami. Dia bahkan tak perlu mengetuk pintu rumahku atau mengiba seperti ini. 

Tak putus asa, demi sesuap nasi, aku melanjutkan mengetuk pintu rumah berikutnya. 

"Ibu sama Ayah sedang tugas ke luar kota, Nek." Gadis berusia delapan tahun itu memberitahu.

"Nduk Gendis di rumah sama siapa?" 

"Sama Kak Sinta. Dia masih mandi. Aku mau diajak kerja kelompok di sekolahnya Kak Sinta. Aku juga mau siap-siap dulu, Nek." Lalu ditutupnya pintu rumah.

Aku duduk di sebuah kursi kayu panjang di depan rumah Gendis. Sudah dua rumah kuketuk, tapi tak serupiah pun kudapatkan. Padahal ini hanya meminjam, bukan mengemis. 

Aku berjalan ke tepi jalan desa ini. Ada banyak rumah sejauh yang dapat kulihat dari tempatku berdiri. Bergegas kudatangi satu demi satu untuk meminta pinjaman. Entah sudah berapa rumah, tapi tak satu pun memberikan bantuan.

Dalam bayanganku kini, aku tak ubahnya manusia yang masuk ke dalam labirin dan terus menerus menemui jalan buntu, berbalik mundur, mencoba jalan lain, tikungan lain, lalu buntu lagi. Tidak mungkin pulang dengan tangan kosong.

Aku sebenarnya tidak habis pikir, kenapa ada saja alasan orang-orang tidak meminjamkan uang. Tidakkah mereka ingat pada lelaki yang sedang sakit-sakitan di rumah? Tidakkah mereka dengar gemuruh asam di dalam perutku? Ke manakah perginya hati nurani orang-orang mapan itu?

Aku ingin mereka sedikit saja menunjukkan empati mereka atas penderitaanku. Aku lelah mengeluh dan mengiba di ruang tamu atau teras rumah mereka. 

Masa jaya kami telah pergi. Saudara dan tetangga tempat kami biasa berbagi, perlahan menjauh, lalu berubah canggung. Tidak ada lagi senyum semringah sebagaimana saat mereka menerima uluran uang dari kami. 

Karena rasanya tidak mungkin menggilir setiap rumah di desa kecil ini, aku memilih diam sejenak dan mengingat-ngingat siapakah yang kira-kira yang bisa membantu.

Pilihanku jatuh kepada Hajah Salma. Wanita berwajah teduh dan agamis itu aku yakin tidak akan mengabaikanku. 

Waktu sudah menjelang magrib. Aku harus cepat sebelum keduluan Hajah Salma pergi ke musalla depan rumahnya.

Sahabat lamaku itu urung menutup pintu rumahnya saat melihatku datang. Senyum merekah di wajahnya yang segar seperti habis berwudu. Aku dipersilakannya masuk dan duduk di sofa birunya yang nyaman. Akhirnya masih ada juga orang baik yang tersisa di desa ini.

"Aku perlu pinjam uang, Salma. Anak-anak terlambat ngirim, sementara Bapaknya Rudi perlu sesuatu untuk minum obat," jelasku.

Tuan rumah hanya manggut-manggut mendengar ceritaku. Dia bertanya soal kondisi suamiku lebih rinci, lalu berjalan masuk ke ruang tengah. Ada kesejukan mengaliri dada. Sedikit lagi, lima puluh ribu saja tak masalah.

***

Suamiku makan dengan pelan. Semangkuk bubur di tangannya hanya berkurang separuh, lalu diletakkannya di meja. Kuangsurkan air minum dan beberapa butir obat kepadanya. 

Setelah merebahkan tubuh lelaki yang lima tahun lebih tua dariku ini, aku meninggalkannya menuju dapur. Pada kursi plastik sederhana, aku tersedu.

Bagaimana Salma saat memberikan uang dua ratus ribu rupiah itu dengan penuh emosi masih tercetak jelas di memoriku.

"Ini aku pinjamkan," ucapnya datar.

"Alhamdulillah, terima kasih, sahabatku."

"Sama-sama." 

Aku berbalik hendak keluar dari rumah megah miliknya. 

"Bunganya dua puluh persen," tambahnya tegas. 

Aku terkejut bukan kepalang mendengarnya. 

***

Rasa bersalah menyeruak di dalam dada. Aku bukan terkejut oleh kenyataan bahwa dia seorang agamis yang membungakan uang. Melainkan karena ucapannya mengulang ucapanku dulu kepadanya saat suaminya sedang sakit keras lalu meninggal. Saat itu hidupnya masih melarat.

Begini rasanya dalam keadaan darurat, tapi justru bertemu dengan orang yang mengambil keuntungan dalam kesusahan. Itulah aku dulu. Penuh semangat mendatangi rumah orang-orang yang kesusahan, lalu mengulurkan pinjaman yang akan beranak pinak. Rupanya labirin yang kujelajahi sore tadi adalah labirin yang kubuat sendiri saat masih berjaya dulu. Tuhan, betapa hinanya kami. 

Komentar

Postingan Populer