Kunjungan



Aku sedang berbahagia, kali ini bisa pulang melihat keadaan orang-orang yang kusayangi. Dengan langkah pelan diterangi cahaya senja yang memerah, aku dalam perjalanan pulang. Rinduku akan terpuaskan, dan harapku akan ditunaikan. 

Aku seorang ayah dari empat orang anak. Tiga lelaki dan satu wanita. Sekaligus seorang kakek dari sembilan orang cucu yang cantik dan tampan. Sungguh aku rindu kepada mereka. Begitu ingin memeluk dan mengusap kepala mereka satu per satu. Ada sesak menyeruak, kenapa baru sekarang pelukan hangat itu ingin kuberikan lebih banyak?

Dalam perjalanan, aku berpapasan dengan beberapa teman. Semua sudah tak sabar melepas rindu dan beban. Akankah ada sambutan untuk seseorang yang sudah lama pergi? Adakan rindu? Ataukah justru sudah dilupakan?

Aku hampir tiba di rumah putra pertamaku, kebanggaanku. Masih kuingat jelas bagaimana aku dan istriku tercinta menanti-nanti dengan berdebar -debar akan kelahirannya di keluarga kecil kami. Bayi laki-laki menggemaskan yang kami berikan kepadanya semua yang kami punya. Aku tersenyum mengenang masa itu.

***

Aku telah sampai. Sebuah rumah yang megah bak istana. Sedikit khawatir kalau saja putraku itu sedang tidak di rumah. Maklum, kondisiku tidak memungkinkan untuk memberi kabar akan kedatanganku sore ini. 

Aku masih berdiri di sisi gerbang canggih yang bisa membuka sendiri. Sebuah mobil memasuki pelataran. Dengan cepat, kuikuti dari belakang. Berharap seseorang yang kunantikan keluar dari dalam pajero itu.

Mereka datang! Di belakang sana, susul menyusul putra-putriku, para menantu, dan seluruh cucu kesayanganku berkumpul hari ini. Ini benar-benar di luar dugaan!

Aku takjub melihat mereka semua. Begitu rupawan dengan pakaian-pakaian yang mewah. Di antara deretan mobil yang terparkir, aku diam mengamati. Sedikit bersembunyi kalau-kalau ada di antara mereka yang melihatku dalam kondisi seperti ini. Tak segagah dan semewah mereka, sebagaimana saat kekayaan mencukupiku dulu. Aku ... malu. 

Tapi aku ingin memeluk, mendekap, meluapkan rindu dan derita yang kujalani kini. Berharap mereka bersedia memberiku sesuatu sekadar untuk kubawa kembali. 

Mereka telah masuk. Aku hanya mengamati dengan mengintip di sisi pintu. Tak seorang pun menyadari keberadaanku. Aku ingin menyapa, barangkali ada yang mengenali dan mengingat lelaki tua yang mengabdikan hidupnya demi kebahagiaan mereka itu.

"Assalamu'alaikum!" 

Tak ada jawaban. Mereka sedang sibuk menata dan mengumpulkan uang, lalu mengocok undian.

Kuketuk pintu, lalu sekali lagi menguluk salam.

"Assalamu'alaikum! Nak, ini Ayah pulang. Tidak membawa apa-apa seperti dulu."

"Nak, masih ingat Ayah, tidak? Ayah sudah hina, Nak. Semua yang Ayah miliki telah hilang! Ayah telah melarat dan merana. Kemarilah, Nak, perhatikan aku seperti aku memperhatikanmu dulu!"

Ya Allah. Tak seorang pun mendengar panggilanku. Teriakan laratku tenggelam dalam euforia arisan keluarga sosialita. Mereka berteriak-teriak heboh saat sebuah nama meluncur dari tabung arisan. Berfoto dengan tema pakaian dan latar yang senada lagi cantik. Mungkin mereka memang tak sudi padaku yang nelangsa dan terlupakan.

Lalu setelah semua keramaian itu berlalu, senyap menyergap. Mereka sibuk dan tunduk pada ponsel mahal dalam genggaman.

Kejam. Tak sekali pun aku menyangka akan seperti ini jadinya. Aku kecewa. Kenyataan menghantamku terlalu keras. Sedu sedan tak bisa kutahan lagi. Harapan tinggal harapan. Dengan gontai, aku melangkah pergi .

Di luar rumah, dekat gerbang, baru kusadari ada pos satpam di sana. Seorang anak remaja mengenakan seragam tampak mengamati gerak-gerikku. Merasa ada yang mengenali, kuputuskan menghapirinya. Lagi pula, wajahnya terasa tidak asing.

Melihatku mendekat, ia pun bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke arahku.

"Assalamu'alaikum, Nak!" 

"Wa alaikum salam, Pak Wirya!"

"Kamu ingat saya?"

"Tentu ingat, Pak. Kita pernah satu kali bertemu. Berkat Anda, saya berhasil lulus dari pesantren impian saya. Setiap bulan, gaji Ibu saya yang bekerja pada Anda selalu dikirimkan untuk saya belajar ilmu agama. Meski hanya seorang satpam, saya bersyukur bisa membantu biaya sekolah adik-adik saya dan mengajari mereka mengaji setiap pulang kerja."

Aku tersenyum melihatnya. Tak sia-sia selalu kulebihkan gaji para asisten rumah tangga yang bekerja padaku dulu. 

"Saya mengerti keadaan Pak Wirya. Bapak kembalilah, nanti saya sekeluarga akan kirim Fatihah untuk Pak Wirya, ya! Semoga Bapak sedikit lebih tenang di alam sana. Maafkan saya, hanya ini yang bisa saya lakukan dan berikan untuk Bapak." 

Mata pemuda itu berkaca-kaca. Sendu dan memerah saga. Lalu dipalingkannya wajahnya yang damai. Ia mengakhiri percakapan tanpa aku sempat berterima kasih.

Seandainya anak-anakku sebaik pemuda itu. Meski tak bergelimang harta, tapi hatinya luas, hidupnya penuh rasa syukur, dan rajin mendoakan orang tua dan orang yang berjasa dalam hidupnya. 

Sesungguhnya ini semua bukan salah anak-anakku. Mereka terlahir suci dan aku mengenalkan dunia pada mereka.

Kenapa dulu tak kuajak mereka belajar mengaji dan mengenal agama? Kenapa tak kutanamkan rasa kasih sayang kepada orang tua? 

Tuhan, bolehkah kuulang hidupku sekali lagi?

Akan kusedekahkan seluruh hartaku, kubaktikan seluruh waktuku demi mendekatkanku dan keluargaku kepadaMu. 

Tapi masa itu telah berlalu. Nisan telah ditancapkan dan bunga-bunga telah ditaburkan. Aku pergi dalam tangisan, dan kini telah hilang dari ingatan.


_Selesai_

Komentar

Postingan Populer