Ketika Alif Nimbrung di Dapur
"Ibu, ini apa?" Demikian Alif bertanya tentang apa pun yang ditemukannya di keranjang bumbu.
Ada saja yang ditanyakan. Tidak jarang, pertanyaannya membuat fokus saya ambyar.
"Ini bawang merah? Kenapa warnanya ungu?"
Speechless. Lha gimana, bukan saya yang kasih nama, kan?
"Ibu mau masak nasi kecap?" tanyanya saat melihat sebungkus kecap refill berukuran besar. Dia terlihat senang sekali.
Nasi kecap yang dimaksud adalah apapun masakan yang berbumbu kecap yang nanti akan dimakannya bersama dengan nasi.
"Iya, bumbu kecap," jawab saya
"Iiibuuuu! Tidak usah dikasih bumbu!" protesnya, sengit.
Padahal saya belum juga bilang apa yang mau dibumbu kecap. Sengaja tidak memberi tahu karena pasti dia akan tidak terima. Lagi pula, ini baru salah satu menu, perjalanan memasak masih akan panjang dan melelahkan, ditambah ada anak kecil yang menunggui. Sudah saya duga, para lelaki di rumah ini tidak cocok nimbrung di dapur.
Bocah pecinta kecap ini sebenarnya maunya cuma makan menu nasi sama kecap saja. Oh, ya, ampun, bisa dipecat mertua saya nanti!
Saat saya mencampurkan tempe goreng ke racikan bumbu kecap yang sudah siap di wajan, terjadilah demo besar-besaran.
"Huaaaa, Ibu, kenapa kecapnya dikasih tempe? Alif cuma mau nasi kecap, Ibu, nasi kecap! Huuuuu!"
Ingin saya berteriak, "Maaaasssss! Tolooonnggg!"
***
Azan Zuhur berkumandang. Alif menandaskan sepiring nasi putih ditambah kuah kecap dari masakan tadi. Iya, murni kuahnya saja, tanpa isian atau sekedar potongan bawang. Saya menunggui sambil senewen. Susah-susah masak, tetep yang diambil kecapnya doang.
Giliran saya makan, dia berjalan ke dapur. Mencurigakan.
Klotak ... klotek ....
Saya putuskan mengendap-endap mengikuti, lalu mengintip. Firasat mengatakan ada misi tersembunyi di sana.
Benar saja, dengan lahap, bocah empat tahun itu menyendoki tempe orek bumbu kecap yang masih di teflon.
Kan ... kan ... kan ....
Lamongan, 24 Juni 2021
Komentar
Posting Komentar