Kesakitan

Waktu itu, BoboiBoy Pulpen sering mengeluh kesakitan hingga berhari-hari. Suatu malam, dia menghampiri saya dengan wajah penuh penderitaan. 

"Ibu, gimana ini, Ibu?" 

Dia memegangi leher. Ekspresi wajahnya seperti menahan sakit. Matanya menyipit dan mulutnya meringis perih. 

"Kenapa, Nak?" tanya saya, tidak terlalu prihatin. Ini penyakit yang sama seperti sebelum-sebelumnya.

"Tenggorokannya Alif kok rasanya ndak enak," keluhnya.

"Oh, begitu, ya. Terus gimana?" 

"Mau dikasih yang enak-enak."

"Yang enak?" 

"Iya, mau biskuit celup teh."

Tuh, kan. Drama anyar yang jadi andalan dia kalau ingin sesuatu. Dua harian saya memikirkan cara menghadapi skenario semacam itu. 

"Yah, gimana ya. Tangan Ibu juga sedang ndak enak." Ganti saya mengeluh.

"Tangan Ibu kenapa?" tanyanya sedikit prihatin.

"Tangan Ibu ndak enak. Ndak bisa bikinkan teh untuk celup biskuit kalau Alif ndak makan malam dulu. Tangan Ibu jadi mau yang enak saja."

"Ndak boleh begitu, Ibu! Ini lho, tenggorokannya Alif ndak enak!" Dia ngegas.

"Ya sama. Tangannya Ibu juga ndak enak. Maunya yang enak juga." 

"Apa?"

Saya tersenyum menang. Dengan yakin saya menjawab, "Main hape."

"Ibuuuuuuu!!!"

Salah saya apa?

Komentar

Postingan Populer