Kerja Sampingan
Kerja Sampingan
Beberapa hari ini, Alif pulangnya menjelang Zuhur. Anak tetangga sudah lari-lari, gulung-gulung di pasir, sepedahan, ngitung inflasi, eh anak saya malah kerja sampingan jadi juru kunci sekolah.
"Lima menit lagi, kalau belum pulang juga, jemput saja," ultimatum ayahnya tadi siang.
Lima menit berlalu, langkah kaki pecicilannya belum juga terdengar dari sekolahan yang jarak terdekatnya dengan rumah cuma dua meteran.
Beberapa orang sudah mulai berangkat jumatan. Saya ikut-ikutan berangkat. Lumayan nanti kalau ketemu pak RT saya bisa basa-basi, "Mau ke mana, Pak?"
Tiba di sekolah dengan ootd yang lungset, bau gorengan, kerudung asal nyaut di cantolan, saya mendapati anak yang saya lahirkan lima tahun lalu sedang masang kaus kaki sambil merenungi kehidupan.
"Halo," sapa saya. "Kok ndak pulang-pulang?"
Bukannya dijawab dengan ramah, dia malah nanya balik, "Ibu kenapa jemput Alif ke sekolah?"
Pokoknya ribet bin mbulet. Saya tanya ke bu guru yang belum pulang, ngapain saja anak saya kok ndak pulang-pulang, eh ternyata dia main sama anak-anaknya bu guru. Gitu aja kemarin-kemarin sok-sok-an pas pulang selalu izin main kayak di sekolah itu kebanyakan belajar.
Sebelumnya, saya tahunya dia lagi privat belajar membaca, antri gantian sama yang lain. Ya bisa saja dia gilirannya belakangan.
Sampai rumah, dia nangis di pintu, kelosotan, persis anak teraniaya.
"Ibu jangan lagi suruh Alif cepat-cepat pulang! Alif di sekolah itu kan sedang merawat teman-teman, tahu!"
😑
Lamongan, 26 Agustus, 2022.
Komentar
Posting Komentar