Janji Ayah

 Barisan jemaah salat dibuat. Tanpa disangka, lelaki yang kurindukan itu maju paling depan. Dia telah datang! Setelah sekian lama pergi, aku tak percaya kali ini lelaki itu bersedia pulang.


Dihamparkannya sajadah yang pernah kuhadiahkan dulu. Saat Ayah bertakbir, dadaku berdebar haru. Inikah saat yang kaujanjikan dulu, Ayah? Aku telah menantikannya seumur hidupku.


Air mata mengaliri wajahnya yang tak lagi tegar. Ayah melantunkan lafaz-lafaz dengan amat fasih. Baru kutahu betapa merdu suaranya meski sedikit tertahan. Surah Fatihah yang dibaca Ayah kunikmati sembari meresapi khidmat dan mukjizatnya. 


"Ghoiril maghdubi 'alaihim walad dhoolliin." Ayah menyelesaian Fatihah-nya.


"Aamiin," sahutku dari dalam keranda.

Komentar

Postingan Populer