Ibu Paling Tahu



Siang itu, saat kami mudik lebaran, di tengah panasnya kota Probolinggo, Mbah Uti dan Mbah Kakungnya Alif, beserta om-om-nya sekalian, semua sibuk di belakang rumah. Para lelaki bergotong royong memasang keramik dan melanjutkan membangun dapur rumah sebelah, rumah adik saya, si om besar.


Ibu membuat es jeruk, lalu ngadem di bawah pohon belimbing. Si mandor kecil? Oh, doi sibuk main pasir yang diayaknya menggunakan saringan. Saya sendiri ngadem di dalam rumah, menghindari panas dengan duduk dekat kipas angin sambil menyetrika setumpuk pakaian.


Penat, saya putuskan melihat-lihat arena tempur di belakang.


"Astagfirullah, Nak, saringan pasirnya jangan di-topi-kan ke kepala begitu, kan kotor! Baru aja keramas!" omel saya, mengacaukan harmoni suka cita.


Alif menoleh, lalu tertawa senang. Enggak ngefek rupanya. Tapi saya paham, dia sedang senang sekali karena dibiarkan bergelimang harta, eh, pasir.


"Biarkanlah, Nduk. Kalau ndak begitu, ya ndak punya masa kecil namanya," sahut si mbah uti, yang kemudian di-amin-i oleh semua jemaah pertukangan di sana.


Ok, santai, selow.


"Oh, ya sudah, harus siaga tapi." Saya mengingatkan.


"Ada Ibu memantau dari sini," jawab Ibu.


"Anak cerdas ya begini mainnya," timpal si Mbah Kakung.


Saya hanya menanggapi dengan senyuman, lalu masuk ke dalam, melanjutkan menyetrika.


***


"Bungaaaa! Anakmuuuuu!" 


Terdengar teriakan dari belakang diiringi tawa bersahutan.


Hmm, apa lagi itu? Saya pun otewe ke TKP.


"Kenapa?" tanya saya sambil memantau keadaan. 


"Ini!" Ayah saya a.k.a  Mbah Kakung berkacak pinggang.


"Alif bikin kue tar, Ibu!" teriak Alif, antusias. 


Di tangannya terdapat saringan yang berisi kerikil dan bebatuan. Dia menghadap adukan semen dan pasir yang sudah diayak dan diberi air, yang tadinya akan digunakan untuk urusan pertukangan. Di tangan Alif, hasil susah payah si om itu sudah dibentuk kotak dan diberi taburan kerikil di atasnya. 


Tuh, kan, apa saya bilang? Lengah sedikit, kena sikat, kan, akhirnya.


Sebagai pertanggung jawaban, saya bilang saja, "Lanjutkan, Nak. Anak cerdas ya begini mainnya."


Lamongan, 15 Juli 2021.


Komentar

Postingan Populer