Hikayat Kiamat 1883
Senin, 27 Agustus 1883.
Beneawang, Teluk Semangka, Lampung.
Dini hari, dalam temaram lampu minyak, Katijah dan suaminya meringkuk di sudut kamar rumah mereka. Suara letusan semalam yang terdengar seperti tembakan meriam membuat mereka tidak dapat tidur sepanjang malam. Saat waktu subuh tiba, mengira semua sudah baik-baik saja, mereka keluar mengambil air untuk berwudu, lalu melaksanakan salat Subuh.
Kata orang, kiamat akan datang setelah datangnya pertanda, salah satunya adalah matahari terbit dari barat. Pertanda lainnya adalah munculnya asap dukhon yang menyelimuti bumi. Akan tetapi, pagi itu, setelah waktu salat Subuh berlalu hingga sekitar satu jam, tidak ada tanda-tanda akan terbitnya matahari dari timur. Bukan. Tidak ada tanda-tanda akan terbitnya matahari. Bahkan dari barat sekalipun.
Katijah sendirian menanti pagi yang tak kunjung terang dengan mengintip dari celah jendela kayu rumahnya. Suaminya, Rahmadi, pergi ke rumah tetangga terdekat guna mencari informasi apakah gerangan yang terjadi sejak semalam.
"Abang, Ijah takut, Bang. Apa yang sebenarnya terjadi di luar sana?" sergah Katijah kepada suaminya yang baru saja datang.
"Sepertinya gunung meletus, Dek."
"Bukan kiamat, kan, Bang?"
"Saat kiamat pun gunung meletus ada, Dek. Hanya Allah yang tahu."
Keduanya diam. Langit masih gelap saat hawa mendadak semakin panas. Udara pagi yang sejuk berubah menyesakkan.
Sekitar pukul 05.30 pagi, terdengar suara letusan besar. Air bah tiba-tiba saja mengaliri rumah-rumah penduduk. Katijah dan suaminya, berlari keluar rumah tanpa membawa apa pun. Bersama para tetangga, mereka berlarian mencari tempat yang lebih tinggi.
Belum hilang kecemasan akibat banjir yang datang dari laut, dengan cepat air seperti ditarik kembali ke lautan. Tidak ada yang membekas kecuali genangan dan lingkungan yang basah. Banjir menghilang begitu saja.
Katijah menggeret suaminya menuju laut, sebagaimana yang orang-orang lakukan. Mereka penasaran dengan apa yang terjadi.
Semua mata tercengang. Lautan seperti mengering hinggaa jauh ke tengah sana. Menyisakan ikan-ikan yang menggelepar di atas pasir dan karang.
Katijah menoleh kepadaa suaminya yang berdiri di dekat La Sueur, seorang Controleur Belanda yang ditugaskan di daerah mereka.
La Sueur memerintahkan agar para penduduk kembali ke pemukiman. Karena ketakutan, mereka pun berkumpul di rumah panggung La Sueur yang lebih tinggi dan kokoh. Lelaki Belanda itu menerima dan memperlakukan mereka dengan baik. Dia berusaha menenangkan orang-orang dan menyuruh asistennya mengirim pesan ke pemerintah pusat.
Dari serambi rumah La Sueur, Katijah bisa melihat bagaimana para lelaki yang tidak ikut berlindung di sana, justru menyatroni rumah-rumah yang kini kosong. Dalam gelapnya pagi yang mencekam, mereka mengambil kesempatan dalam kesempitan. Katijah sedikit menyesal tidak membawa apa pun, tetapi dia juga tidak mungkin kembali ke rumah. Tidak ada yang tahu berapa lama lagi kehidupan akan bertahan.
Banjir kembali datang setelah didahului suara letusan yang tak kalah besar dengan yang sebelumnya. Air menerjang tiang-tiang di serambi itu hingga roboh.
Rahmadi dan beberapa lelaki di antara kerumunan ratusan orang itu berdiri mengumandangkan azan. La Sueur terpaku, membiarkan sekaligus tercengang dengan banyak hal besar yang susul -menyusul terjadi.
Air kembali menyusut dengan cepat. Katijah merapatkan kerudungnya. Wanita yang belum dikaruniai keturunan itu menghadap ke barat lalu bertakbir. Dia dan semua pribumi di sana melaksanakan salat taubat sebisanya. Rumah Controleur itu pun ramai oleh tangis dan teriakan menyebut nama Tuhan.
"Kiamat telah datang!" teriak seorang wanita sambil menunjuk ke jendela.
Air kembali datang. Kali ini sangat-sangatlah besar, kuat, dan mengerikan. Gulungan ombak setinggi dua atau bahkan tiga kali pohon kelapa, bergemuruh, berdebur debur, menggempur cepat dari kejauhan. Sekali kedipan, rumah itu hancur berserakan.
"ALLAAAHHHH!"
"ALLAAHHHHH!'
"ALLAAHHU AKBAAAR!"
Lalu hening. Air telah membungkam mulut-mulut mereka. Seperti remahan kayu di arus besar, Katijah kelimpungan mencari pegangan. Sang suami entah ke mana hilangnya. Katijah menangis, timbul tenggelam. Saat sebuah papan kayu mendekat, mungkin bagian dari serpihan rumah, Katijah meraihnya dan membiarkan diri terapung-apung dibawa arus. Dia memeluk erat benda itu, lalu perlahan kesadarannyaa menghilang.
***
"Apakah ini neraka? Apakah kiamat belum selesai?" Wanita itu memindai sekitarnya dan hanya mendapati lumpur tebal dengan tubuh-tubuh tergeletak begitu saja. Langit tidak saja menghitam, tapi juga memerah dengan hawa panas dan udara yang menyesakkan.
Beberapa orang datang dengan membawa obor dan membantunya berdiri. Mereka membawanya ke sebuah bukit yang masih bisa dibilang aman.
Katijah menoleh ke sana kemari, mencari sosok Rahmadi di antara kerumunan. Orang-orang itu memberinya baju dan sedikit makanan. Belum sempat debar kecemasan di dada wanita itu mereda, air datang lagi, persis seperti saat di rumah La Sueur tadi. Katijah berlari bersama semua orang yang ada di sana.
"Bang Rahmadi! Bang Rahmadi!" teriaknya pada seorang lelaki berperawakan mirip seperti suaminya.
***
Entah di mana dirinya kini. Dosa apa yang membuatnya dipertemukan dengan detik-detik berakhirnya dunia. Orang-orang berkata bahwa ini sudah malam. Di tempat pengungsian yang cukup kokoh ini, mungkin balai desa atau rumah pejabat Belanda, dia memeluk lutut menangisi entah apa. Terlalu banyak dan terlalu cepat segala sesuatu berlalu.
Suara hujan membangunkannya dari mimpi buruk yang tidak jauh berbeda dengan kenyataan. Kiamat seperti benar-benar datang. Hujan di luar sudah bukan lagi hujan air yang membawa aroma tanah basah. Hujan di luar sana, dari yang orang-orang dengungkan, adalah hujan batu panas diiringi pasir dan abu. Katijah benar-benar khawatir. Tempat perlindungannya bisa saja roboh dalam waktu dekat dan mereka akan mati seperti pasukan gajah Abrahah yang dilempari batu panas dari neraka.
"Maafkan Ijah, Bang Rahmadi. Ibumu mungkin benar, aku tidak akan bisa memberimu keturunan meski menunggu hingga kiamat tiba. Aku merindukanmu, Abang. Seandainya saja kau masih di sini. Aku berjanji tak akan marah meski tak ada lagi ubi bakar untuk mengganjal lapar. Kembalilah, Baaanggg!"
Jeritan Katijah sepertinya didengar Tuhan. Rahmadi datang bersama lahar dan pecahnya separuh gunung Krakatau yang membungkam semua rintihan.
Lamongan, 20 Agustus 2021.
Komentar
Posting Komentar