GELITIKAN

 

Gelitikan

Pada zaman dahulu, saya pernah menggoda Suami dengan mitos. Niat saya sederhana, yakni menyanjung-nyanjung diri sendiri.

"Mas, katanya, kalau ada orang laki-laki yang gelian, berarti istrinya cantik. Berlaku juga sebaliknya."

Setelah mitos dengan misi terselubung itu diberikan, saatnya pembuktian.

"Coba, mana tangannya?" tantang Suami.

Elleehh, siapa takut?

Saya mengulurkan tangan, siap dengan risikonya. Yakin banget pasti menang. Lalu, dia menggelitiki telapak tangan saya.

Eh, kok geli.

Loh, geli banget.

Wait, sejak kapan saya gelian?

Saya pun menahan diri, jaga image dan branding. Pokoknya saya cantik!

Tapi naudhubillah gelinyaaa, Ya Allah Gusti Pengerannnn ....

Akhirnya saya terkikik-kikik sambil minta ampun. Menanglah dia.

Next, gantian, dia yang saya gelitiki telapak tangannya. Minimal kami harus seri. Saya mengerahkan seluruh tehnik menggelitik dari yang halus dengan ujung jari sampai semi nyakar. Dia diem-diem bae. Lempeng, innocent.

Tak menyerah, saya coba di lututnya. Nggak ngefek.

Pindah ke telapak kaki, dari pakai jari sampai pakai kemoceng, semua nggak mempan. Saya senewen. Ini dia kulitnya kapalan apa nggak punya saraf, sih.

Saya dinyengirin. Cuma sebelah lagi. Ngueselin, memang.

Finally, dia menang lagi. Saya kerepotan memulang-mulangkan harga diri.

***

Semalam, sebagaimana kebiasaan menjelang tidur, Alif minta di-treatment.

Sambil gemes, iri, dan dengki, saya menggelitiki telapak kaki bocah lima tahun itu. Dia keenakan sampai liyer-liyer, sampai merem. Sedangkan saya, jangankan digelitiki, dicolek saja saya merinding. Dahlah, capek nyari gara-gara.

😑

Lamongan, 28 September 2022.

Komentar

Postingan Populer