Ganti Rugi


"Mbah Jo, rumahmu kebakaran, Mbah. Ayo pulang!" teriak seorang pemuda di pinggir jalan.

Lelaki lanjut usia yang sedang mencari rumput itu pun kaget. Gerakan tangannya terhenti di udara. Segera ia memahami hal besar yang terjadi. Secepat yang ia bisa, ia berlari diiringi pemuda yang mengabarinya tadi. Tidak ada yang lebih dikhawatirkannya selain keadaan istrinya yang sedang sakit.

Sesampainya di sana, ia sudah mendapati rumahnya tak ubahnya arang. Rata menghitam. Api begitu cepat melahap rumah kayu yang seperti gubuk itu. Enam ekor kambing peliharaannya pun semuanya mati terpanggang api di dalam kandang yang rapat terkunci. Semua kambing-kambing itu bukanlah miliknya. Ia hanya diupah untuk dititipi dan merawat. Entah bagaimana nasibnya nanti. Ia hanya bisa pasrah. Setidaknya masih ada istrinya yang tadi berhasil diselamatkan warga.

Mbah Dirjo dan Mbah Saswi adalah sepasang suami istri perantauan. Mereka berasal dari pulau sebrang. Tak memiliki anak dan sanak saudara. Di usianya yang sudah renta, keduanya masih harus berjuang sekadar untuk bertahan hidup.

Sehari-hari, Mbah Jo bekerja sebagai pemelihara kambing. Istrinya biasa berjualan tahu lontong di depan rumah. Beberapa hari ini, Mbah Saswi memang kurang sehat karena usianya.

Meski begitu, keduanya memiliki peran penting dalam merawat musalla di wilayah RT mereka. Setidaknya, sehari sekali pasangan senja itu bahu membahu merapikan dan mensucikan tempat salat itu. Malamnya, di dalam rumah gubuknya, Mbah Jo mengajar mengaji anak-anak kecil. Tak banyak, kurang dari sepuluh anak. Sementara Mbah Saswi sibuk menyiapkan dagangan untuk besok.

Dengan langkah pelan, Mbah Jo berjalan ke rumah tempat istrinya ditampung. Banyak tetangga menguatkan, memberi pakaian, dan bantuan lainnya. Namun, dengan tubuh rentanya, dirinya tak dapat berbuat banyak sekadar untuk hidup esok hari.

Lelaki itu hanya duduk merenung. Yang selama ini dimilikinya tidaklah banyak. Tapi yang tak seberapa itu pun kini telah menjadi abu. 

Mbah Jo merasa lelah, sepanjang malam hanya menatap arang dari gubuknya dulu. Seolah perjuangannya selama ini hanya berakhir sebagai abu. Di daerah ini, tidak ada rumah yang lebih jelek dari rumahnya. Tapi tanah itu, bangunan reot itu, adalah bukti perjuangannya. Ia bahagia dengan apa yang dimilikinya.

Di manakah nanti ia akan menghabiskan waktu dengan istrinya di hari tua? Di manakah nanti ia dapat mengajar mengaji anak-anak kecil yang selalu datang ke rumahnya? Lalu dirinya teringat musalla yang hari ini belum dibersihkannya. Meski tak pernah meminta bayaran, Mbah Jo tak pernah sehari pun lupa pada kebiasaannya. Namun hari ini, karena terlalu sibuk memikirkan rumahnya sendiri, ia lupa pada rumah Allah tempatnya setiap hari bermunajat. 

Bergegas, meski telah larut malam, ia berangkat mengunjungi tempat yang meneduhkan hati tersebut. Menata, merapikan, membersihkan hingga bagian tempat wudlu. Setelahnya, ia kembali ke tempat istrinya menginap di rumah seorang tetangga.

Esok hari tiba. Lelaki itu bersiap untuk pergi ke sawah tempatnya kini bekerja. Menjadi buruh tani adalah satu-satunya pencaharian yang bisa ia lakukan untuk saat ini. Bagaimana pun, ia tak mungkin terus-terusan menumpang.

Lelaki itu bekerja sedari pagi hingga sore. Ia hanya pulang ketika adzan Dhuhur berkumandang, lalu kembali lagi ke sawah. Mbah Jo tak ingin meratapi nasibnya lebih lama. Langkah-langkahnya penuh semangat, hingga tak disadarinya lalu lalang para tetangga yang tak biasanya ada di rumah karena semuanya selalu sibuk bekerja.

Sore sepulang dari sawah, didapatinya tumpukan abu dan arang itu telah dibersihkan. Bertumpuk-tumpuk material berjajar di tanah miliknya. Tubuh ringkihnya gemetar saat disampaikan kepadanya bahwa ini adalah sumbangan dari para tetangga. Orang-orang kaya yang setiap hari putra-putri mereka dikenalkannya pada Al Quran dan agama. Juga sumbangan orang-orang yang berterima kasih atas baktinya pada musalla tempat warga beribadah. Mereka semua tak ingin jika sampai Mbah Jo pulang ke kampung halaman, dan berharap agar lelaki shalih itu tetap di sini, mendidik anak-anak mereka, membangun apa yang selama ini mereka lalaikan karena sibuk mengejar dunia. 

Seseorang menepuk pundaknya, ialah Mbah Saswi yang telah cukup sehat untuk berjalan demi melihat tempatnya tinggal dulu yang kini sedang dibangun. Mata kedua orang itu membasah, lalu menganak sungai. Begitu mudah Allah membalik keadaan.

Bangunan yang dulu gubuk itu akan berganti menjadi sebuah rumah yang kokoh. Kambing-kambing yang mati itu telah diikhlaskan oleh pemiliknya.  Hari berganti minggu, lalu berganti bulan. Senyum-senyum dikembangkan. Anak-anak kembali mengaji. Rumah Allah senantiasa ramai dan suci. Seorang lelaki bersujud penuh syukur dalam naungan kasih sayang Dzat Yang Maha Kaya.

_selesai_

Komentar

Postingan Populer